Pages

Madrasatul Ula -Beginilah Caraku Merawat Berlian 1

Kamis, 04 Juli 2013

“Kau (ibu) adalah madarasah pertama bagi anakmu, semua perlakuanmu yang dapat diindrakan olehnya baik terhadap dirinya ataupun terhadap apa dan siapa saja, itulah pelajaran yang akan dicoba untuk dimengerti, untuk menyusun dirinya sendiri.”

Ummuka Madrasatul Ula Laka- Ibumu adalah madrasah pertama bagimu. Ungkapan semacam ini nampaknya amat sering kita jumpai, dengar, dan tidak tabuh lagi. Iya, ibulah madrasah pertama itu. sejak kapan? Sejak benih itu tumbuh, sejak itulah Allah memberikan peran baru kepada seorang calon ibu untuk menjadi guru bagi calon anaknya. Ini mungkin tidak asing lagi, dan kita tidak akan membicarakan tentang ini terlalu jauh. Yang ingin kita dengungkan disini adalah ketidaksadaran kita atas peran baru yang kita emban itu. agar kita tidak lagi menyalah-nyalahkan, mengutuk, dan mencerca masa kini, dalam keadaan lupa masa lalu dan masa depan, padahal ketiganya tidak dapat dipisahkan dalam sebuah madrasah yang sejati.

Sebelah Mata

Minggu, 16 Juni 2013

Setiap peristiwa akan menemukan momentumnya masing-masing, peristiwa itu sendiri yang akan menggiring kita. Biasanya moementum-momentum dahsyat akan lahir dari rahim peristiwa yang tidak biasa. Namun satu hal yang perlu kita renungi, sebaik dan seburuk apapun peristiwa itu, tidak sedikitpun membantu kita untuk menerka momentum apa yang akan dilahirkan.

Karenanya kita harus berhati-hati, menyepakati segala hal dengan hati kita sendiri. maka tidak jarang kita temukan, momentum emas lahir dari peristiwa hitam, gelap, perih, dan bahkan sering kita pandang sebelah mata. Pandangan yang tidak sempurna, menjadikan kita tidak menikmati keseluruhannya, sehingga banyak hal yang tidak terindra oleh mata hati. ini sebenarnya bukan perkara remeh, karena ini jua yang akan menentukan seberapa tinggi tingkat ketertipuan kita.
Buruknya laku, suara, nada, rasa dan cinta, kerap kali memanjakan mata kita untuk melihat dengan mata sempurna, mata hati kita. Padahal sedikitpun kita tidak mengetahui, momentum apa yang akan terjadi, yang akan lahir dari laku, suara, rasa, dan cinta buruk itu. kadang kala kita terlalu cepat menilai, atau terlalu tidak teliti dalam melihat, yang menjadikan kita menghinakan diri kita sendiri tanpa kita sadari, dengan menhina siapa saja.

Tampar Aku Tuhan

Rabu, 05 Juni 2013

Kultwit #TamparAkuTuhan @MultazamZakaria


Bismillahirrahmanirrahim, selamat pagi tweeps! Semoga sellau dalam berkah-Nya. Amiin. Insyyallah pagi ini akan kulwit #TamparAkuTuhan
bukan soal sombong dan sok, tapi terkadang ini sangat penting adanya  #TamparAkuTuhan
tidak sedikit sahabat kita yang berhasil bangkit dari aneka keterpurukan karena tamparan ini  #TamparAkuTuhan
terlalu banyak yang akan kita jumpa, bila sungguh-sungguh mengais makna padanya.  #TamparAkuTuhan
bahkan DIA akan singkapkan kita atas hal-hal yang selama ini tertutupi bagi kita bahkan orang banyak  #TamparAkuTuhan

Poligami itu

Sabtu, 01 Juni 2013


Bismillah.. selamat malam tweeps.! Insyaallah malam ini akan kulwit tentang . Semoga bermanfaat
meski sbenarnya saya belum pantas bicara ttg , tapi tidak ada salahnya, untuk menyampaikan opini dan pendapat ttg hal ini
Bismillah, tweeps. jika kita lihat kawan-kawan yang melaksanakan poligami, selalu mengatakan karna melaksanakan sunnah Rasul saw
saya meyakini ada kaitan erat dengan apa yang disbut Syahwah Khafiyah oleh Ibnu Athaillah. sepertinya begitu
syahwah khafiyah, ini sangat berbahaya. sulit diterka dan diraba keberadaanya. kecuali dengan kesungguhan untuk menemukannya

Spektrum Asa

Senin, 27 Mei 2013

Kulwit #SpektrumAsa @MultazamZakaria

Bismillah
Alhamdulillah Alldzi Ahyana Ba'da Amatana Wa Ilahinnusyur
Matahari berganti bulan, bulan berganti matahari. memesrai setiap rotasi, seharusnya mengajarkan kita tentang
memesra rotasi yang bukan canda, harusnya menyadarkan kita pada kesungguhan dan kebenaran niat

Embun

Jumat, 24 Mei 2013

Kulwit #Embun @MultazamZakaria


Ibadah, belajar menghinakan diri, bukan membanggakan diri di hadapan-Nya
Cermin diri, bercerminlah. agar jiwa ini tahu betap banyak noda yg menutupi. hingga cahaya tak terasa menghampirinya. Bersihkan
Terserah, Dia punya banyak cara untuk membimbing. Menampar, adalah salah satu cara itu.

Rasakan saja tamparan-Nya, setealh itu bergegas dan bersih diri. bersih  

jika memang benar bersih, maka tak mungkin pernah diri ini anggap dirinya bersih, apalagi paling bersih. tidak  

Satu

Rabu, 22 Mei 2013


“Entah, mungkin hingga ‘arsyurrahman lengkingan itu terdengar. Kisap petir menyambut bergiliran, akankah isak renta, atau tawa balita. Ternyata ‘satu’.”

Satu, hanya satu. Satu yang melahirkan susunan jutaan kata, yang menjadikan si pendiam tiba-tiba tampil bagai public speaker handal, meneguhkan jiwa mereka melawan miliayaran pasukan langit yang tak hentinya mendera, satu itu alasannya. Satu? Aku masih tidak mengerti, apa yang kau maksud satu? Tenanglah, bukan aurat, hanya semangat. Satu itu adalah semangat. Yang aku dan kita semua harap, satu itu lahir dari dan untuk Yang Maha Satu, agar tak berbilang sepanjang umurnya, agar ia tetap satu, semangat. #TeriakItu

Multazam Zakaria dan Best friend


Beragam umur dan karakter mereka, dari tujuh belas hingga dua puluhan tahun lengkap bersama meraka. Asal kota atau desa yang berbilang beragam tak kunjung mampu membilang dan meragam mereka, hanya satu, dan semoga tetap satu. Satu lagi, warna kulit. Hahaa, aku tahu, bahkan yang menulis dan sedang membbaca tulisan ini tak kunjung sama warnanya, tapi tetap menjadi satu. Bukan satu hati, karena kami meyakini beraneka ragam kehendak

Mihrab Penantian


Pengap
Gerah
Hati bagai miniatur kosan mahasiswa tak berpentilasi
Entah bagaimana harus menerjemahkan rasa ini
Saat si dia tiada di sisi tiada kabar
Yang ada hanya bayangan
Semu.. palsu…
Padahal pagi ini
Sengaja kuberdiri disini
Barangkali ada sabdanya yang dibawakan sang pipit
Sang pipit tak kunjung menjelma
Cinta, menyulapku layaknya seorang gila
Sayang, membuatku terus berilusi dengan bayang
Kasih, begitu juga masih setia mengukir sedih
Rindu, malah membuatku makin pilu
Demi rabithah suci yang dulu kita sepakati
Akan kukumpulkan setiap sajak
Saat tiba kau pulang nanti
Kau akan lihat
Aku masih setia bertapa
Dalam mihrab penantianku.

foto saat masih nyantri di pondok madani














Dahsyaaat! Tetater Wisma Kemenpora RI Hari Ini

Jumat, 17 Mei 2013




18-05-2013
Perkembangan Ekonomi Syariah di Indonesia nampaknya cukup menggembirakan, sambutan hangat para politisi, akademisi, dan bahkan praktisi bisnis trus memenuhi rongga asa Indonesia.

Setelah kemarin (17/05/13) Aula Sekolah Tinggi Ekonomi Islam SEBI khidmat bersama antusiasme dan optimisme anak bangsa, dalam semifinal debat ekonomi syariah nasional (OESN) Gebyar Ekonomi Syariah-7 (GES7). Namun ikhtiar itu tidak cukup sampe di sana, maka hari ini kita akan melanjutkannya. Kampus Sekolah Tinggi Ekonomi Islam SEBI mempersembahkan  “ISLAMIC ENTREPRENEURSHIP TALKSHOW” yang akan diselenggarakan hari ini sejak pukul 08:00- selesei di Gedung Tetaer Wisma Kementerian Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia.

Bedah Buku “The Crisis” Dalam Pekan Ilmiah IsEF (PIIs)

Rabu, 15 Mei 2013

KSEI Islamic Economics Forum (IsEF) STEI SEBI Depok menyelenggarakan Bedah Buku “The Crisis; Krisis Manalagi Yang Engkau Dustakan” karya M. Luthfi Hamidi, MA. Rabu (24/4/2013). Acara ini dihadiri oleh lebih dari 100 mahasiswa dan jajaran dosen STEI SEBI yang terselenggara atas kerjasama KSEI IsEF dengan Perpustakaan STEI SEBI dan bertujuan untuk menumbuhkan budaya keilmuan serta semangat syiar ekonomi syariah. Hadir sebagai pembicara pada Bedah Buku tersebut adalah Penulis Buku “The Crisis” M. Luthfi Hamidi, MA. dan Adril Hakim, ST, MM. serta di moderatori oleh Ahmad Baehaqi selaku Presidium Nasional FoSSEI.

Dalam cover buku “The Crisis” terdapat kata “Quranomics” yang dicantumkan penulis, berasal dari kata Qur’an dan Economics, yang berarti ekonomi yang mengacu kepada Al-Quran dan Sunnah. Quranomics inilah yang menjadi solusi permasalahan krisis ekonomi. Penulis menyatakan bahwa krisis identik dengan ketidakstabilan. Al-Quran menyamakan mereka yang sedang dalam kondisi tidak stabil laksana mereka yang gila. Hal itu dikarenakan seorang manusia bagai kerasukan, seperti yang tertera dalam Q.S. Al Baqoroh ayat 275 yang menyatakan bahwa “Orang-orang yang memakan riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan setan karena gila”.

Kalau Boleh Jujur



Foto: Pemakaman Tuan Guru Haji 'Ismatillah (Allah Yarhamhu) Dasan Tapen- Lombok

Bojongsari- Malam Jum’at, 20 December 2012  ~ 21:39 WIB

Saudaraku…
Saya yakin, ada banyak  impian dan obsesi yang ingin kita raih dalam hidup ini. “Bermimpilah setinggi-tingginya”, begitu sering kali kita diajarkan di rumah, kelas sekolah, apalagi di kelas-kelas training dan motivasi. Pun saya juga begitu, bahkan saya masih ingat dulu semasa SMK nama akun fb saya “Multazam Sang Pemimpi”. Dan saya pun mengakui betapa penting memiliki impian dalam hidup ini.

Cinta Kita



“Yang disebut cinta adalah rasa yang didapat dari pengembaraan menuju-Nya. Selain daripada itu, bisa dipastikan hanyalah jelmaan syahwah nafsiyyah dan ego semata.” (Multazam Zakaria- MOZAIK Indonesia)
#####

Seiring masa terus mencabik usia kita tanpa henti, tanpa henti, sedikitpun, kita nampaknya makin terlihat dewasa dan mulai merambah ke dalam dunia rasa. Kita tampil nampak lebih elegan dan lebih faham akan rasa-rasa yang barangkali sering menghiasi detik detik nafas kita. Meski saya yakin di balik tampilan elegan dan kefahaman itu ada banyak hal yang sebetulnya kita tidak mengerti, hakikatnya. Saya bisa katakan hal semacam ini sebagai sebuah bentuk ‘ketertipuan’. Tertipu? Maksudnya? Yah, bicara rasa maka taka ada rasa yang paling diindah untuk dikecap selain rasa cinta. Siapa yang tidak tahu dengan rasa ini? Rasa ini adalah rahasia dari pengorbanan-pengorbanan besar, rasa ini adalah rahasia dari semangat kontirbusi yang tak mengenal kata jeda, rasa ini yang menajdi rahasia dibalik kuatnya pundak memikul amanah dan kaki terus melangkah. Inilah rahasianya, rasa ini. Bila memang rasa ini adalah rahasia dari hal-hal besar itu, pernahkah kita sedikit menggelitik diri untuk bermaksud lebih memahami indikasi atau sekedar hakikat dan sumbernya.? Ya, kita sering mangalami ketertipuan dengan rasa ini. Barangkali karena kita terlalu menikmatinya sehingga remehkan sumber dan dampaknya. Bila itu terjadi, maka tertipulah dan bersiaplah kecap derita luka yang mungkin entah kapan berhenti menganga.