KSEI Islamic Economics Forum (IsEF) STEI SEBI Depok menyelenggarakan Bedah Buku “The Crisis; Krisis Manalagi Yang Engkau Dustakan” karya
M. Luthfi Hamidi, MA. Rabu (24/4/2013). Acara ini dihadiri oleh lebih
dari 100 mahasiswa dan jajaran dosen STEI SEBI yang terselenggara atas
kerjasama KSEI IsEF dengan Perpustakaan STEI SEBI dan bertujuan untuk
menumbuhkan budaya keilmuan serta semangat syiar ekonomi syariah. Hadir sebagai pembicara pada Bedah Buku tersebut adalah Penulis Buku “The Crisis” M. Luthfi Hamidi, MA. dan Adril Hakim, ST, MM. serta di moderatori oleh Ahmad Baehaqi selaku Presidium Nasional FoSSEI.
Dalam cover buku “The Crisis” terdapat
kata “Quranomics” yang dicantumkan penulis, berasal dari kata Qur’an
dan Economics, yang berarti ekonomi yang mengacu kepada Al-Quran dan
Sunnah. Quranomics inilah yang menjadi solusi permasalahan krisis
ekonomi. Penulis menyatakan bahwa krisis identik dengan ketidakstabilan.
Al-Quran menyamakan mereka yang sedang dalam kondisi tidak stabil
laksana mereka yang gila. Hal itu dikarenakan seorang manusia bagai
kerasukan, seperti yang tertera dalam Q.S. Al Baqoroh ayat 275 yang
menyatakan bahwa “Orang-orang yang memakan riba tidak dapat berdiri
melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan setan karena gila”.
Bedah Buku “The Crisis” Dalam Pekan Ilmiah IsEF (PIIs)
Rabu, 15 Mei 2013
Kalau Boleh Jujur
![]() |
| Foto: Pemakaman Tuan Guru Haji 'Ismatillah (Allah Yarhamhu) Dasan Tapen- Lombok |
Bojongsari- Malam Jum’at, 20 December
2012 ~ 21:39 WIB
Saudaraku…
Saya yakin, ada banyak impian dan obsesi yang ingin kita raih dalam hidup
ini. “Bermimpilah setinggi-tingginya”, begitu sering kali kita diajarkan di
rumah, kelas sekolah, apalagi di kelas-kelas training dan motivasi. Pun saya
juga begitu, bahkan saya masih ingat dulu semasa SMK nama akun fb saya
“Multazam Sang Pemimpi”. Dan saya pun mengakui betapa penting memiliki impian
dalam hidup ini.
Cinta Kita
“Yang
disebut cinta adalah rasa yang didapat dari pengembaraan menuju-Nya. Selain
daripada itu, bisa dipastikan hanyalah jelmaan syahwah nafsiyyah dan ego
semata.” (Multazam Zakaria- MOZAIK Indonesia)
#####
Seiring masa
terus mencabik usia kita tanpa henti, tanpa henti, sedikitpun, kita nampaknya
makin terlihat dewasa dan mulai merambah ke dalam dunia rasa. Kita tampil
nampak lebih elegan dan lebih faham akan rasa-rasa yang barangkali sering
menghiasi detik detik nafas kita. Meski saya yakin di balik tampilan elegan dan
kefahaman itu ada banyak hal yang sebetulnya kita tidak mengerti, hakikatnya.
Saya bisa katakan hal semacam ini sebagai sebuah bentuk ‘ketertipuan’. Tertipu?
Maksudnya? Yah, bicara rasa maka taka ada rasa yang paling diindah untuk
dikecap selain rasa cinta. Siapa yang tidak tahu dengan rasa ini? Rasa ini
adalah rahasia dari pengorbanan-pengorbanan besar, rasa ini adalah rahasia dari
semangat kontirbusi yang tak mengenal kata jeda, rasa ini yang menajdi rahasia
dibalik kuatnya pundak memikul amanah dan kaki terus melangkah. Inilah
rahasianya, rasa ini. Bila memang rasa ini adalah rahasia dari hal-hal besar
itu, pernahkah kita sedikit menggelitik diri untuk bermaksud lebih memahami
indikasi atau sekedar hakikat dan sumbernya.? Ya, kita sering mangalami
ketertipuan dengan rasa ini. Barangkali karena kita terlalu menikmatinya
sehingga remehkan sumber dan dampaknya. Bila itu terjadi, maka tertipulah dan
bersiaplah kecap derita luka yang mungkin entah kapan berhenti menganga.
Label:
Dialog Senja,
JejakNgampus,
Pendidikan,
Sastra
INDONESIA INTERNATIONAL ISLAMIC BANKING CENTRE; PROSPEK DAN OPTIMISME
Selasa, 14 Mei 2013
INDONESIA INTERNATIONAL ISLAMIC BANKING CENTRE;
PROSPEK
DAN OPTIMISME
Oleh
Multazam Zakaria
Sharia Economics and Banking Institute- SEBI
azamibnuzakariyya@gmail.com - 081918253603
![]() |
| Multazam Zakaria |
Pendahuluan
Cita-cita gubernur Bank Indonesia (BI); Agus Marto
untuk menjadikan Indonesia sebagai “Pusat Perbankan Syariah Dunia”, akhir-akhir
ini ramai dibincangkan berbagai kalangan baik melalui media online
maupun offline, cita-cita gubernur BI ini menjadi topik hangat dan
menarik untuk dibahas. Dukungan dari berbagai kalanganpun terus mengalir, meski
tidak sedikit yang menertawakan dan menganggap itu hanyalah mimpi. Tapi
bagaimanapun, ini merupakan impian sekaligus optimisme untuk menjadikan Indonesia
sebagai pusat perbankan syariah dunia, maka layak diberi dukungan dan apresiasi
oleh unsur-unsur bagunan bangsa ini. Maka tahun 2013 dan beberapa tahun
sesudahnya kiranya akan menjadi masa transisi masa keemasan Indonesia. Golden
age yang pernah terjadi menghiasi sejarah khilafah Abbasiyyah, kita
harapkan mampu terulang kembali oleh pemeran sejarah yang baru dan layak, Indonesia.
Prospek dan Optimisme
Setidaknya, ada beberapa faktor pendukung industri
keuangan syariah di Indonesia, sebagaimana dipaparkan oleh Yuslam Fauzi (Yuslam fauzi, Memaknai Kerja, Mizan, Bandung 2012. Hal 204-212) yang merupakan
direktur Bank Syariah Mandiri (BSM), tiga fakor itu adalah: Pertama,
The Emerging Market. The emerging market merupakan sebutan untuk negara atau wilayah
yang memiliki kecepatan pertumbuhan ekonominya jauh melebihi negara-negara yang
ekonominya lebih maju. Menurut beberapa lembaga riset memprediksi bahwa
negara-negara the emerging market akan menguasai perekonomian
dunia pada tahun 2030. Indonesia merupakan salah satu dianatara negara-negara the
emerging market bersama Brasil, Rusia, India, dan Cina. Kedua, Negeri dengan Populasi
Muslim Terbesar di Dunia. Selain menjadi salah satu negara berpenduduk
tertinggi di dunia, Indonesia merupakan negara dengan penduduk muslim terbesar
di dunia. Dari 237 juta jiwa total penduduk Indonesia, 86% atau 205 juta jiwa
merupakan penduduk beragama Islam (Sumber: www.bps.go.id). Dengan jumlah
ini menempatkan Indonesia menjadi negara dengan penduduk Muslim terbesar di
Dunia. Ketiga, Kekayaan Alam yang Melimpah. Tak terbantahkan lagi bahwa
Indonesia merupakan negara yang memiliki kekayaan alam yang melimpah. Indonesia
merupakan penghasil minyak sawit, karet, kopi, cokelat, dan hasil hutan
lainnya. Indonesia juga merupakan penghasil pertambangan terbesar di dunia.
Apa yang disebut the golden ages tidak
terjadi begitu saja, ada optimisme dan perjuangan yang telah mereka lakukan
untuk mewujudkan itu semua. Jika Indonesia ingin mengulang sejarah itu, harus
memiliki rasa optimis, perjuangan, dan ikhtiar sebagaimana mereka pernah
lakukan. Industri perbankan syariah nasional hingga bulan Oktober 2012 masih
berada dalam fase pertumbuhan yang tinggi yaitu 37% (lihat gambar 1).
Perkembangan ini tentu memberikan harapan positif bagi perkembangannya pada
tahun 2012. Namun yang menonjol pada tahun ini adalah terjadinya perlambatan
pertumbuhan yang signifikan akibat perlambatan pada sisi pengumpulan Dana Pihak
Ketiga (DPK). Optimisme untuk tetap tumbuh masih terpelihara dalam industri
perbankan syariah. Terlebih lagi ketika perekonomian secara global diperkirakan
akan membaik pada tahun 2013. Dengan begitu ekonomi nasional pada tahun 2013
diperkirakan akan mampu tumbuh lebih baik.
Untuk tahun 2013, proyeksi perkembangan
perbankan syariah masih terdiri dari 3 skenario yaitu: (i) skenario pesimis,
(ii) skenario moderat dan (iii) skenario optimis. Dengan
berbagai skenario tersebut, total aset tahun 2013 diproyeksikan menjadi Rp255
triliun (skenario pesimis), Rp269 triliun (skenario moderat), dan Rp296 triliun
(skenario optimis). Sementara market share sebesar 5% diperkirakan akan
tercapai antara April 2013-Mei 2013 dan akhir 2013 diperkirakan market share
telah menjadi 6,5%. Selama periode tahun 2012, jumlah Bank Umum
Syariah (BUS) dan Unit Usaha Syariah (UUS) sampai dengan Oktober 2012 tidak
mengalami perubahan, namun demikian jumlah jaringan kantor meningkat. Meskipun
dengan jumlah BUS (11 buah) maupun UUS (24 buah) yang sama, namun pelayanan
kebutuhan masyarakat akan perbankan syariah menjadi semakin meluas yang
tercermin dari bertambahnya Kantor Cabang dari sebelumnya sebanyak 452 menjadi
508 Kantor, sementara Kantor Cabang Pembantu (KCP) dan Kantor Kas (KK) telah
bertambah sebanyak 440 kantor pada periode yang sama (Oktober 2012, yoy).
Secara keseluruhan jumlah kantor perbankan syariah yang beroperasi sampai
dengan bulan Oktober 2012 dibandingkan tahun sebelumnya meningkat dari 1.692
kantor menjadi 2.188 kantor. (Sumber: Outlook Perbankan
Syariah 2013)
Identifikasi Masalah
Sumber daya manusia (SDM) sebagai salah satu elemen
penting dalam industri tak terkecuali perbankan syariah, kualitas dan kuantitas
SDM sangat mempengaruhi kemajuan suatu industri. Setidaknya ada tiga masalah yang dihadapi oleh
perbankan syariah Indonesia; Product, Awwarness, dan SDM. (Achmad K
Permana "Menguak Krisis Sumber Daya Insani di Perbankan Syariah"
13/08/2012). Kebutuhan terhadap sumber daya manusia (SDM) perbankan syariah
rata-rata sekitar 11.000 per tahun, sementara yang dapat dipenuhi oleh
perguruan tinggi sekitar 3.500 per tahunnya (Ketua Umum Asbisindo Yuslam
Fauzi dalam seminar "Pengelolaan Dana Umat dengan Prinsip Ekonomi
Syariah" 29/01/2013)
Problame Solving
Setidaknya, untuk meningkatkan kualitas dan
kuantitas SDM bank syariah dibutuhkan kesiapan dari tiga pihak khusunya sebagai
ekskutor utama, yaitu lembaga pemerintah, lembaga pendidikan, dan lembaga bank
syariah itu sendiri. dan jika ketiga pihak ini telah mampu melahirkan SDM yang
berkualitas, selanjutnya dituntut peran dan kerja nyata dari SDM yang telah
dihasilkan untuk turut serta mewujudkan visi besar Indonesia sebagai pusat
perbankan syariah dunia.
Pertama, Pemerintah.
Sejauh ini, kampus-kampus ekonomi
syariah atau kampus-kampus umum yang membuka program studi ekonomi syariah
nampaknya masih terkesan galau. Ini akibat dari rumitnya regulasi yang
dibuat pemerintah, khususnya yang terkait dengan perizinan pembukaan program
studi ekonomi syariah. Celakanya lagi, kurikulum tersebut kadang disusun oleh
yang bukan ahlinya. Misalnya disusun oleh ahli pendidikan atau ahli ilmu sosial
atau pemikiran Islam. Mereka sama sekali tidak mengetahui memahami ekonomi
Islam.(Agustianto, sekjen DPP Ikatan Ahli Ekonomi Islam Indonesia dan Dosen
Pascasarjana UI, Trisakti, UIN dan Universitas Paramadina)
Maka pemerintah diharapkan mampu menjadi
ekskutor untuk membuat standarisasi kurikulum, regulasi yang bersifat supporting
terhadap bank syariah dan pendidikan ekonomi syariah.
Kedua, lembaga pendidikan. Masih terkait dengan kebijakan standarisasi
kurikulum dari pemerintah. Sehingga masing-masing perguruan tinggi dituntut
untul membuat kurikulum yang integrative. Sehingga lembaga pendidikan
mampu menghasilkan SDM yang mumpuni. Selain kurikulum yang integrative, hal
yang sangat penting juga untuk menunjang kualitas SDM ekonomi syariah adalah
internalisasi nilai-nilai syariah kepada masing-masing individu. Selain itu,
untuk meningkatkan kuantitas SDM perbankan syariah, lembaga pendidikan juga
harus menyiapkan fasilitas penunjang berupa pembukaan cabang atau kelas baru
bagi prodi perbankan syariah bagi kampus ekonomi syariah. Sedangkan bagi kampus
umum, fasilitas penunjang yang dimaksud adalah dengan membuka prodi atau
jurusan perbankan syariah atau ekonomi syariah. Bahkan, kebutuhan yang dianggap
penting juga adalah ketersediaan labortorium bank syariah. Selain itu, trend
sekolah menengah berbasis ekonomi syariah juga perlu kiranya dikampanyekan,
sehingga pengenalan edukasi ekonomi syariah bisa dilakuakn lebih dini.
Ketiga,
Bank Syariah. Selain peran dari pemerintah dan lembaga pendidikan,
peran dari bank syariah sendiri tentu sangat dibutuhkan. Peran ini bisa berupa coaching
atau training perbankan syriah khususnya bagi SDM yang bukan
berlatarbelakang ekonomi syariah.
Dari ketiga ikhtiar di atas, output yang
diharapkana adalah lahirnya SDM yang bukan hanya menambah kuantitas, tapi yang
terpenting adalah kualitas. Standar kualitas SDM yang dimaksud adalah kemampuan
menjalankan perannya guna mendukung visi besar Indonesia sebagai pusat
perbankan syariah dunia. Diantara peran yang dimaksud adalah pelatihan,
penelitian, pengembangan, dan penyuluhan (P4). Dengan menjalankan keempat peran
tersebut, diharapkan SDM ekonomi syariah mampu menyentuh semua lapisan
masyarakat, terlebih bila SDM ekonomi syariah mampu menjadi society educator,
yang bukan hanya mengajar di sekolah-sekolah atau kampus-kampus, tapi langsung
terjun memperkenalkan dan memberikan edukasi kepada masyarakat tentang ekonomi
syariah. Pelatihan, merupakan hal yang menggembirakan atas
terbentuknya asosiasi-asosiai yang dibentuk oleh para ekonom syariah Indonesia.
Tentu ini sangat berperan untuk kemajuan perbankan syariah Indonesia, beberapa
diantaranya adalah; Ikatan Ahli Ekonomi Islam (IAEI), Asosiasi Bank Syariah
Indonesia (Asbisindo), Forum Riset Perbankan Syariah, Masyarakat Ekonomi
Syariah (MES), Forum Silaturrahim Mahasiswa Ekonomi Syariah Indonesia (FoSSEI),
dan lainnya. Penelitian dan Pengembangan, kegiatan ini tentu
sangat bermanfaat bagi kemajuan perbankan syariah. Selain meningkatkan kualitas
SDM, ini juga sangat penting guna peningkatan kualitas dan kuantitas produk
bank syariah. Penyuluhan, kegiatan ini lebih kepada pembinaan dan
pengenalan langsung kepada masyarakat Indonesia, bisa berbentuk direct
selling dengan langsung mendatangi komunitas masyarakat, atau dengan
cara-cara lainnya.
Kesimpulan
1. Dari berbagai masalah yang
dihadapi oleh bank syariah, salah satu yang termasuk masalah utama adalah
ketersediaan SDM
2. Masalah SDM di bank syariah
bukan hanya masalah kuantitas tapi juga kualitas
3. Masalah kuantitas yang
dihadapi adalah kurangnya ketersediaan SDM ekonomi syariah, terlebih
perkembangan bank syariah di Indonesia meningkat setiap tahuunnya.
4. Lembaga pendidikan sebagai
pengahasil SDM ekonomi syariah masih belum mampu menutupi kuota yang yang
dibutuhkan. SDM yang dibutuhkan pertahun sekitar 11.000 sedangkan yang mampu
dipenuhi oelh lembaga pendidikan (kampus) sekitar 3.500 pertahunnya
5. Masalah kualitas SDM bank
syariah yaitu karena masih didominasi oleh non-pendidikan ekonomi syariah,
sehingga berdampak pada resiko reputasi (pemenuhan prinsip syariah)
6. Untuk mengahadapi masalah
ini, dibutuhkan peran penting dari pemerintah sebagai regulator, lembaga
pendidikan sebagai pusat edukasi, dan bank syariah sebagai industri kerja.
7. Peran SDM untuk mendukung
Indonesia sebagi pusat perbankan syariah dunia yaitu pelatihan, penelitian,
pengembangan, dan penyuluhan (P4)
8. Lemabaga pendidikan memegang
peran yang amat sangat penting untuk menghasilkan SDM yang mumpuni, karenanya
harus melakukan perbaikan kurikulum, meningkatkan kapasitas pengajar, dan
penyediaan sarana pendukung seperti laboratorium bank syariah
9. Edukasi ekonomi syariah juga
harus dilakukan di sekolah menengah agar terjadi edukasi ekonomi syariah lebih
dini.
Wallahua’lam.
Merindumu, Sungguh #Ramadhan
Jumat, 10 Mei 2013
Merindumu,
Sungguh
Rindu
Mungkin itu kata
pertama yang terhembuskan
Untuk guratan
kisah masa lalu
Bersamamu
Untuk hari-hari
yang tanpa kemesraan
Untuk setiap
detik yang tanpa cemburu
Dulu
Untuk masa-masa
yang dulu kuabai
Aku merindumu,
sungguh
Dalam do’a aku
terkapar
Meminta dan
mengemis
Agar kiranya
kau kembali menjumpaiku
Mendekap erat jiwaku
Kiranya tuhan
berkehendak pertemukan kita kembali
Agar bisa
kutebus
Semua silap
masa lalu
Semua acuh yang
mungkin buatmu pilu
Semua dusta
yang mungkin buatmu terluka
Ah,
Aku tidak punya
kata-kata lagi untuk kungkapkan
Aku merindumu,
sungguh
Itu saja.
Pemeran Utama Peradaban
Jumat, 19 April 2013
PERADABAN
INI BUTUH PARA PEMERAN UTAMA
Ketika
peradaban telah menjadi visi dalam kehidupan, maka itu berarti hidup kita harus
dinfaqkan sepenuhnya untuk pencapaian visi itu, mau tidak mau. Bila peradaban
memang betul cita dan mimpi kita, maka berarti kita rela semangat perwujudannya
mengalir bersama derasnya darah dalam tubuh kita, kita akan rela menunda
kesenangan deminya, untuk peradaban yang membaharu. Bila puncak peradaban
memang benar menjadi tujuan dari pendakian ini, maka apapun akan kita lakukan
untuk menggapainya. Namun, problematika yang kita hadapi bukan disitu melainkan
banyaknya para pendaki junior yang kian hari kian berguguran. Tebing yang curam
kadang membuat langkah ini berjeda, bekal yang kurang kadang membuat langkah
tak lagi bertenaga, ya begitulah yang sedang kita alami sekarang, khususnya
para pendaki junior, siapa lagi kalau bukan para pemuda.
Hati Tandus
HATI TANDUS
Gersang.. Lirih hati yang terlanjur tandus
Menanti mata air yang entah dimana
Pun dunia terus menganiyaya
Memporak-poranda jiwa tiada berkeping
Perih lukanya pun semakin menganga
Derita berkepanjangan, kehausan cinta, kekeringan kasih,
kehambaran rasa, kehampaan sukma, menjadi mufradat harian hati tandus
Bodoh… lirih hati tandus
Iapun semakin diperbodoh oleh kepintaran sendiri
Karena memang ia tak secerdas iblis
Indonesia Negara "Surga Jahannam"
Indonesia Negara “Surga-Jahannam”
Oleh:
Mahasiswa Sharia Econnomics and
Banking Institute (SEBI)
![]() |
| Ilustrator 'Surga-Jahannam' by Multazam Zakaria |
Indonesia Negara
“Surga-Jahannam”, ini statmen yang
mungkin jarang terhembus ke khalayak semesta, bahkan mungkin belum pernah
sebelumnya. Karena dalam ajaran islam, tidak mungkin menggabungkan antara
‘surga’ dan ‘jahannam’, karena jahannam sendiri merupakan sebuah nama dari
tempat yang menjadi antonim dari surga, namun dalam dunia linguistik, semua
bisa dilakukan asalkan dilandasi alasan yang kuat dan bisa
dipertanggungjawabkan. Maka kata kunci dari tulisan ini yang nantinya akan
menjadi referensi untuk memahami istilah ‘surga-jahannam’ adalah dengan
menjawab beberapa pertanyaan-pertanyaan sederhana dan menggelitik berikut ini, apa itu Indonesia? Apa itu surga? Dan apa
itu jahannam?.
“Circle of Equity” Sebuah Pemikiran Ekonomi Politik
“Circle of Equity”, Sebuah Pemikiran Ekonomi Politik Dari Ibnu Khaldun
Oleh : Multazam ZakariaSharia Economics and Banking Institue (SEBI)
“Allah telah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan beramal shaleh di antara kamu, sungguh Dia akan menjadikan mereka menjadi pemimpin di muka bumi sebagaimana Dia telah menjadikan pemimpin orang-orang sebelum mereka, dan sungguh Dia meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan sungguh Dia akan menggantikan ketakutan mereka dengan keamanan. Mereka menyembah-Ku, tidak menyekutukan-Ku dengan sesuatu. Dan barang siapa yang ingkar sesudah yang demikian itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.”(QS. An-Nuur: 55)
Saya pernah menulis di salah
satu Koran Harian, dimana tulisan itu mencoba menilisik kembali artikel
Ir.Soekarno yang ditulis sebagi respon terhadap kelompok yang menyebut dirinya
“kaum nasionalis konstruktif” yang menuduhnya terlalu banyak omong. Tapi saya
menitikberatkan peran penting ulama terhadap pembangunan daerah dulu dan kini,
dimana ulama ini sendiri dalam istilah
PENDIDIKAN EKONOMI SYARIAH; MENYAMBUT MASA KEEMASAN INDONESIA
PENDIDIKAN EKONOMI SYARIAH; MENYAMBUT MASA KEEMASAN INDONESIAOleh: Multazam ZakariaSharia Economics and Banking Institute (SEBI)
Pengantar
Dalam Terminologi sejarah ekonomi konvensional, dikenal istilah the
great gap dan the dark ages. Ini merupakan masa kekosongan sekaligus
masa kegelapan yang sangat panjang bagi ekonomi konvensional, sekitar 1300
tahunan.
Berbeda 180 derajat jika kita melihat jejak rekam sejarah ekonomi
islam, justru pada masa ke gelapan (dark ages) ekonomi konvensional
merupakan the golden ages (masa keemasan) dalam terminologi ekonomi
islam. Sejarah mencatat, bahwa masa itu adalah masa dimana ekonomi islam
menggapai puncaknya. Munculnya para ilmuwan dan pemikir ekonomi islam pada saat
itu menjadi salah satu indikasi keemasannya. Mulai dari masa Rasul saw,
kekhalifahan, Sayyiduna Abu Bakar, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan dan Ali
bin Abi Tholib. Lalu dilanjutkan pada zaman umayyah, abbasiyyah satu dan
abbasiyyah dua. Maka muncullah nama Hanifa, Syafi’I, Abu Yusuf, Hambali,
Farabi, al-Gazali, Ibnu Rusd, Ibnu Taimiyah, Ibnu Khaldun, dan lain sebagianya.
Merindu Sepuluh Tahun Lalu | Nostalgia
Abi, ummi, kanda,…
Aku ingin katakan, bahwa saat ini aku sedang dilanda mega
rindu, merindu kalian semua.
Aku rindu, dan sangat rindu. rindu masa lalu kita yang
mungkin tak akan pernah kita ulangi lagi.
Demi allah, aku rindu, rinduuu sekali.
Dulu,
Terlalu sering kita habiskan waktu dalam kebersamaan
Bersama ayah, ibu, dan kanda semua
Dulu, sering kita habiskan waktu menikmati pagi, siang, sore
bahkan malam bersama gelak tawa di atas kolam ikan depan rumah kita. Aku masih
sangat ingat itu, dan aku rindu ingin mengulanginya. Tidak ada sedikitpun yang
tertutupi saat itu, kecuali satu, dan baru beberapa tahun belakangan ini aku
menyadarinya, beban dan kesusahan yang harus ayah dan ibu tanggung, itu yang tak
pernah ayah dan ibu beritahukan kami saat itu.
Kini, tak ada lagi kolam ikan, tak ada lagi gelak tawa
bersama pancing itu. Kolam ikan kita dulu kita telah berubah menjadi kolam
ilmu, kolam alquran, kolam tempat memancing ma’rifat, kolam yang kuharap bisa
mengusir kejunuhan siapa saja dari hiruk pikuk dunia. Aku rindu kolam ikan itu,
rindu sekali.
Dwonload Ebook Menggugat Akhawat
Kami pun tersenyum, dan memaklumi. Karena kami tahu, bahwa ustadzah Heni.
Bukanlah seorang ummahat yang sedikit kegiatan. Tetapi, jam-jam produktif yang
membuat begitu banyak kegiatan. Sungguh seorang mujahidah sejati. Aku tahu semua
itu, karena Ummiku adalah kakak dari ustadzah Heni. Tetapi, teman-teman
sekajianku. Belum mengetahui, kalau aku. Adalah saudara ustadzah Heni. Atau dalam
kata lain. Ustadzah Heni adalah Bibiku yang telah merawatku semenjak aku kecil.
Tetapi aku tidak mau, membuat mereka menjadi tahu. Kalau Ustadzah Heni adalah
Bibiku.
“Gimana, sudah lama tadi?” Tanya ustadzah Heni.
“Nggak juga kok Ustadzah! Kami juga lagi membahas masalah yang besar!” Ucap
Wira. Terlihat seperti cari muka.
Fajar Agustanto (Blackrock1/Fajar001/Jaisy01)
www.ggs001.cjb.net
Ha! Masalah besar? Jadi mereka menganggap masalah kecil ini menjadi besar?
Masya Allah! Semoga tidak menghalangi dengan masalah-masalah yang memang
seharusnya dikatakan besar. Gumamku dalam hati.
“Ha! Masalah besar? Masalah apa kok sepertinya sangat penting!” Ustadzah Heni
terlihat penasaran.
“Iya, masalah tentang menikah!” Jawab Wira lagi.
selengkapnya, untuk bisa menikmati novel hasil goeresan tangan Saudara Fajar Agustanto bisa dowload DI SINI
Bukanlah seorang ummahat yang sedikit kegiatan. Tetapi, jam-jam produktif yang
membuat begitu banyak kegiatan. Sungguh seorang mujahidah sejati. Aku tahu semua
itu, karena Ummiku adalah kakak dari ustadzah Heni. Tetapi, teman-teman
sekajianku. Belum mengetahui, kalau aku. Adalah saudara ustadzah Heni. Atau dalam
kata lain. Ustadzah Heni adalah Bibiku yang telah merawatku semenjak aku kecil.
Tetapi aku tidak mau, membuat mereka menjadi tahu. Kalau Ustadzah Heni adalah
Bibiku.
“Gimana, sudah lama tadi?” Tanya ustadzah Heni.
“Nggak juga kok Ustadzah! Kami juga lagi membahas masalah yang besar!” Ucap
Wira. Terlihat seperti cari muka.
Fajar Agustanto (Blackrock1/Fajar001/Jaisy01)
www.ggs001.cjb.net
Ha! Masalah besar? Jadi mereka menganggap masalah kecil ini menjadi besar?
Masya Allah! Semoga tidak menghalangi dengan masalah-masalah yang memang
seharusnya dikatakan besar. Gumamku dalam hati.
“Ha! Masalah besar? Masalah apa kok sepertinya sangat penting!” Ustadzah Heni
terlihat penasaran.
“Iya, masalah tentang menikah!” Jawab Wira lagi.
selengkapnya, untuk bisa menikmati novel hasil goeresan tangan Saudara Fajar Agustanto bisa dowload DI SINI
Langganan:
Postingan (Atom)










