Pages

Perjalanan Eufoni Cinta Multazam Zakaria

Sabtu, 03 Januari 2015


PERJALANAN EUFONI CINTA
(Juni 2014 - Januari 2015)

Alhamdulillah wassyukru lillah. Allah beri saya banyak keajaiban melalui perantara Eufoni Cinta. Allah izinkan saya bersilaturrahim dengan orang-orang yang tak pernah saya sangka. Sekitar bulan Juni 2014 Eufoni Cinta saya terbitkan melalui sebuah penerbit indie di Bandung. Sejak itulah mulai banyak yang dapat menikmati kecil yang berukuran 14cm x 10 cm dengan jumlah halaman ix+153.

Eufoni Cinta (EC) awalnya hanya kumpulan catatan dalam perjalanan rasa. Ia berusaha memasuki segala ruang kehidupan, memberikan pemaknaan. Karena memang cinta tidak memiliki batasan waktu dan ruang, ia mampu singgah kapan dan dimana pun ia berkehendak.

Ada beberapa tokoh yang memiliki peran penting hingga EC bisa dinikmati oleh sejumlah orang. Di bagian “Siapa di Balik Eufoni Cinta” saya akan coba kenalkan siapa saja beliau.

Hari ini, Sabtu 3 Januari 2015 saya mendadak ‘melankolis’ lalu meminta izin untuk curhat di grup whatsapp kelas. Inti curhat saya tentang ‘kegelisahan’ saya terkait dengan buku saya “Eufoni Cinta”. Ada beberapa hal yang membuat saya gelisah. Pertama, sejumlah pembaca memberikan apresiasi dan testimoni yang sangat luar biasa. Dalam hati saya berkata: “bagaimana kalau seandainya yang dikatakan orang tentang Eufoni Cinta bukan yang sebenarnya?”. Kedua, mendapat sejumlah apresiasi yang sangat luar biasa membuat saya merasa tidak layak dan tidak pantas untuk mendapatkannya. Paling engga, itu inti curhat saya.

Hari ini misalkan, seorang sahabat sebut saja namanya Irma melalui BBM berkomentar tentang EC: “Aku udah baca buku Eufoni Cinta, ka. Bagus! Walaupun bukunya kecil tapi isinya begitu besar. Banyak pelajaran yang dapat aku ambil. Buku ini menginspirasi aku untuk terus menulis. Ga perlu bahasa yang berlebihan. Ringan dan bermakna lebih mengena”.

Akhirnya saya forward komentar di atas ke grup kelas. Saya merasa, apa iya EC seperti itu? Aku masih belum percaya bahwa EC begitu. saya meminta teman-teman kelas berkomentar dengan penuh kejujuran tentang EC. Akhirnya seorang teman sebut saja namanya Cinthia Dewira merespon: “menurut aku pribadi emang bener kok bukunya tochy banget, simple tapi sampai ke pembacanya. Saran aku buat Azam, berhenti bertanya dan belajrlah untuk mengahrgai usahamu dan apa yang udah kamu raih”.

Lalu disusul oleh seorang sahabat bernama Hilwa Rahmi El-Maftuh : “Walapun gw ga suka sastra, tapi memang ada beberapa bagian di dalam buku itu yang menurut gw bagus dan ‘touchy’ kalau kata cinthia”.

Dilanjutkan oleh seorang sahabat sebut saja namanya Sofik Emeraldy S : “kalau menurut saya pribadi sih tentang EC: ketika saya mulai membacanya seolah seperti sedang bertamasya ke sebuah tempat yang baru nan indah, dan di tempat itulah saya menemukan kunci untuk membuka pintu dan di dalam pintu itu menemukan cahaya hikmah. Dan menurut saya bahasa yang digunankan EC itu bahasa sastra yang ringan tapi ngena. Beda sama buku-buku puisi yang pernah kubaca seperti karya ***** agak-agak susah dipahami dan berbau filsafat gitu”.

Nah, itu dia beberapa komentar tentang EC hari ini. Setiap kali orang mengatakan sesuatu yang baik tentang EC, saya selalu katakan: Jika ada kebaikan di dalamnya, itulah ALLAH. Tapi jika ada kesalahan dan kekeliruan, itulah saya. Jika anda memuji kebaikan yang ada di dalamnya, maka pujilah ALLAH.

Juga saya ingin tulis lagi komentar sejumlah orang yang telah membaca EC, berikut:

“Ketika membacanya,  rasanya saya seperti sedang mengarungi sungai yang jernih airnya dengan rakit, asyik berkelak kelok lewati kebun penuh bunga permai, dan sesampai di muara kutemukan mutiara hikmah yang bening berkilau dan penuh keindahan. Layak dijadikan mahkota raja-raja.

Selamat putraku , puisi-puisimu adalah ilham dari alam surgawi untuk pencerahan dan kepuasan setiap jiwa yang dahaga”. (Syeikh Dr. Dhiyauddin Hafizahullah- Emdeka Saka Guru)

“Saya sudah membaca karya yang membuat saya tidak bisa beranjak untuk meninggalkannya sejenak, meski selembar pun. Lembaran demi lembarannya seakan berdialog dengan hati saya. Indah. Benar-benar mengisi ruang kehidupan yang selama ini penuh dengan gelisah. Terima kasih sudah menghadirkan karya yang banyak manfaatnya ini”. (Wulan Lan, Mahasiswi Akhir Pascasarjana Universitas Negeri Surabaya)

“Cerdas, menyentuh, dan ilahi banget tapi tetap romantis. Salut sekali penulis semuda Azzam bisa sangat dewasa dalam menyampaikan pesan-pesan kebenaran yang dikemas indah. Saya tenggelam dalam kesadaran yang saya tulus menerimanya”. (Taufik Akbar, Ketua Islamic Economics Forum SEBI)

“Penulis cerdas. Di setiap judulnya mampu membuat saya seolah-olah mengeja diri saya sendiri.  Hanyut terpukau saat membacanya”.
(Rahmi SM, Owner #airkangenjkt)

“Karya yang tak main-main! Setiap kalimat yang hadir dalam #EufoniCinta; rasanya tak seperti sedang membaca naskah. Bayangan para tokoh turut hadir menyelinap pada hipnotis diri. Setiap kalimat satu dengan yang lainnya tak menjadikan kita seperti sedang didikte; larut bersama kekhusyuan. Recomended!”.
( Fitri Herni Anggraeni, Penulis Buku-buku Antologi)

“Mengalir, menerka dan terhanyut. Seperti sedang memutar film pendek. Such a precious masterpiece! Kata yang pantas untuk karya ini, dilihat dari penggambaran cerita dan pemberian nasihat sekaligus. Satu paket pengingat yang sederhana dan indah”. (Athifah Dardewantara)

“Tentang sebuah kisah perjalanan hati, jiwa dan raga. Begitu menginspirasi bagi pembacanya. Iya, inilah isyarat hati yang begitu mendalam”. (Afifah Kamila)

“Penulis yang luar biasa. Setiap kata demi kata saya merasakan kelezatan iman yang luar biasa, selalu mengahdirkan Sang Ilahi di setiap tulisannya. Saya hanyut terpukau dibawanya berlabuh ke singgasana-Nya. Buku ini wajib dibaca oleh siapa pun yang merindukan keindahan dan keromantisan cinta dari Sang Pemilik Segalanya. Selamat Sahabat, kautelah berhasil menghipnotis jiwa-jiwa dahaga dengan pesan-pesan kebenaran yang kaukemas sangat indah”. (Vrylen'z Sheeny)

“Keren! Tulisan yang ringan tapi sangat mengena. Banyak pesan yang terselip tanpa disadari”. (Nurindah)

“Sebuah karya yang memukau pembaca dalam memaknai sebuah persahabatan, disampaikan dengan gaya bahasa yang indah. Bangga menjadi sahabat penulis”. ( Siti Nur'aini Wahdah Wirawan)

“Penulis Muda yang berbakat, dengan gaya bahasa yang memikat, penulis mengajak kita mengenal ‘who am I?’ dan memahami makna persahabatan. Membaca buku ini menyadarkan kita betapa pentingnya menyelami diri sendiri”. (Mulyadi)

“Tiap bait yang dirangkai penulis selalu mampu menyulam sesimpul senyum”. (Syafa Atul Udzmah, Komikus)

“Pada penggalan-penggalan kata yang kauukir dalam bait-bait cinta, bagiku tidaklah sekedar Eufoni Cinta, melainkan bahasa rasa yang terejawantahkan lewat kelihaianmu memainkan kata. Sesungguhnya, setiap desiran getar cinta sulit dibahasakan lewat kata, tapi kautelah mampu menuangkannya dalam untaian aksara” (Fihiruddin Pensil , Pegiat Seni dan Budaya)

“Penulis Eufoni Cinta, Multazam: tidak hanya mengaji dan membaca, tapi mengeja dan memahami aksara cinta. Mungkin saja ia menjadi lakonnya”. (Maman Abdullah, Dosen Bahasa universitas Teknologi Sumbawa)

“Alhamdulillah, saya merinding baca bukunya. Mata saya juga ikut berkaca-kaca, menyentuh sekali. Saya suka!” (Dea- Teman facebook)

“Membaca bait-bait Eufoni cinta, aku serasa mendapatkan sayap yang kemudian membawaku terbang menuju menuju samudra luas tak bertepi dan diri ini bagai sebutir debu bahkan lebih kecil dari itu. tidak ada yang patut untuk disombongkan. Terimakasih Saudara Multazam Zakaria yang sukses membuat air mata saya mengalir dan mengantarkan saya pada sebuah pemahaman dan kesadaran diri.” (H. Abdurrahaman, Karyawan CV. Almadani)

“Eufoni Cinta. Membaca judulnya saja indah. Dirangkai dengan kata-kata luar biasa yang meyejukkan dan membuat kita berkata dalam hati: “ya itu benar”, “wow tepat sekali seperti yang aku alami dan rasakan”, “persis, memang seharusnya begitu”. Buku ini penuh dengan tuturan bagiamana kita mengharap, mendiktekan, emnajga dan memperindah tentang cinta sejati tanpa ahrus melanggar syariat. Buku ini juga wakil dari pencari cinta yang hakiki. Dari perantau kepada kampung halamannya. Dari anak kepada ibunya. Dari seorang hamba kepada Tuhannya”.  Mia Siti Nurazizah, Mahasiswi Ondokuz Mayis Universitesi Turki).

“Azzam, sesungguhnya masih ‘bocah’. Namun saya melihat Rumi dan Gibran bersenyawa. Eufoni vinta buktinya!” (Syarif Husni, Ketua FLP Mataram)

Aduh, ternyat panjang juga ya. Masih bayak hal yang perlu saya tuliskan tentang perjalanan EC dari Juni 2014-Januari 2015. Siapa saja di balik EC, bagaimana asal mula, dan banyak hal lagi. Nanti saya lanjutkan di tulisan berikutnya.

Seluruh royalti dari penjualan Buku Eufoni Cinta dipergunakan untuk pembangunan Pusat Pembibitan Penghafal dan Pemangku Al-Qur’an Al-Madani Lombok Timur-NTB. Sehingga, Buku Eufoni Cinta diharapkan dapat menjadi amal jariah yang tak terputus pahalanya bagi penulis, pembeli, donatur dan siapa saja yang terlibat dalam proyek kemanusiaan ini.

Demikian dulu perjalanan EC Part#1.
Terimkasih atas semua sahabat,

Allahlah satu-satunya pemilik kebaikan dan segala sifat yang layak dipuji.

Wasalamu'alaikum wr wb.

Pemerintah Konversi Bank BUMN Menajdi Bank Syariah

Kamis, 01 Januari 2015

 7 Hal untuk Semua Saudaraku dari Agama mana pun

Dear,
Semua saudaraku dari agama apa pun.

Di tahun 2015 ini semoga kita sudah lebih baik, lebih berkah dan lebih bahagia.

Ada beberapa hal yang hendak kusampaikan disini:

Pertama, Indonesia adalah negara agama, siapa yang tidak beragama maka tidak ada tempat baginya di indonesia. Maka tidak heran jika semangat 'agama' menjadi pondasi paling pertama negara ini sebagaimana dalam sila ke-satu dinyatakan: Ketuhanan Yang Maha Esa. Sebelum para founding father kita menuliskan kosa kata-kosa kata lainnya dalam pancasila kita, pertama yang ditulis adalah kosa kata "ketuhanan".

Kedua, pokok pikiran bangsa indonesia yang kedua adalah: kemanusiaan yang adil dan beradab. Bung Hatta adalah salah satu sosok pelopor yang menyatakan bahwa pembangunan terpenting dalam negara ini adalah membangun manusianya. Dan pokok inti dari membangun kemanusiaan ini adalah "adil dan beradab". Implementasi dua pokok inti pembangunan ini tentu tidak hanya dengan konsep demokrasi politik, tapi Hatta mencetus "demokrasi ekonomi". Demokerasi politik tidak akan berlansung tanpa demokrasi ekonomi.

Ketiga, untuk meruncingkan kedua poin di atas: agama dan kemanusiaan yang adil dan beradab serta kaitannya dengan sistem ekonomi, saya coba pertebal: (1) agama adalah pokok pikiran dari bangsa ini, sehingga salah besar jika memisaahkan antara agama dan negara; (2) konsep dasar pembangunan kemanusiaan dan ekonomi yang dicetuskan oleh para founding father kita di dalam pancasila sangat sejalan dengan konsep-konsep pembangunan dalam perspektif agama; (3) sehingga "kemanusiaan yang adil dan beradab" juga harus diimplementasikan dalam pembangunan ekonomi; (4) bagaiamana dengan konsep bunga yang sudah menjadi gurita dalam prekonomian kita? Agama Islam sudah sangat tegas melarang bunga karena TIDAK ADIL dan Zhalim (tidak berADAB) (QS Albaqoroh: 275-279), Agama Yahudi melarang keras praktek bunga (Kitab Perjanjian Lama Pasal 22 ayat 25), Agama Nasrani mengecam bunga dan memasukkannya ke dalam perbuatan tidak terhormat (tidak berADAB).

Dari ketiga poin di atas, sudah sangat jelas bahwa Pokok Pikiran Bangsa Indonesia: Ketuhanan (agama), adil dan beradab menentang sistem bunga/riba yang kini sudah menggurita dalam prekonomian kita.

Keempat, praktek bunga tidak hanya di perbankan. Tapi justru terjadi juga dala transaksi-transaki ekonomi masyarakat akar rumput. Sehingga perjuangan "mengembalikan" sistem prekonomian indonesia yang tanpa riba dalam sektor perbankan adalah salah satu ikhtiar kita, bukan satu-satunya.

Kelima, sistem ekonomi syariah (yang juga sesuai dengan ajaran nasrani dan yahudi khususnya tentang bunga) menjadi alternatif sistem ekonomi yang paling tepat dan sesuai dengan pokok pemikiran pembangunan kemanusiaan dan prekeonomian Indonesia.

Keenam, oleh karena itu perlu ada ikhtiar yang signifikan untuk memperjuangan sistem ekonomi (syariah) ini. Kita tidak bisa hanya mengandalkan pertumbuhan organik, karena akan sangat lambat.

Ketujuh, para pakar mengusulkan bahwa salah satu ikhtiar 'anorganik' yang bisa dilakukan adalah: pemerintah mengkonversi salah satu BANK BUMN (BNI, MANDIRI, BRI) menjadi Bank Syariah. Dengan estimasi pertumbuhan market share sekitar 20%.

Demikian 7 poin yang hendak saya sampaikan, semoga mendapat perhatian dan dukungan dari saudaraku semuanya, dari agama apa pun.

Jiak saudara peduli dengan Indonesia, jangan lupa like, komen dan share tulisan ini untuk sahabat-sahabat saudara.

Terimakasih dan Mohon Maaf.

Salam Nasionalis Religius,
Multazam Zakaria, Islamic Economics Forum Stei Sebi

SAMPEAN MUSLIM? KOK BANGGA DENGAN RIBA

Selasa, 30 Desember 2014

Hanya karena bank syariah belum sepenuhnya syariah, sejumlah kita dengan ringan mengatakan "sama saja, tidak ada bedanya". Tentu saja tidak begitu. Di samping kita berharap bank syariah segera hijrah ke fase yang lebih mapan (lebih syariah) kita juga tak mungkin hanya diam, atau sekedar melempar kritik tanpa ikut urun tangan. Saya kira itu sikap yang tidak cukup bijak.


Kita muslim, dan islam sangat jelas ajarannya tentang riba. Bahkan dalam satu dihadits dikatakan dosa 1 dirham riba sama dengan 36 kali berzina. Astagfirullah.


Barangkali ada diantara keluarga kita yang sudah terlanjur terjebak dalam lingkaran setan transaksi bunga, mari perlahan kita hijrah, kita ajak orang untuk hijrah ke ekonomi syariah.


Dan, ternyata riba dan bunga tidak hanya dilarang dalam ajaran islam, tapi oleh agama yahudi dan nasrani juga mengecam riba dan bunga. Begitu juga Aristotels, Plato dan Thomas Aquinas mengecam para pelaku riba dan bunga.


Lalu, sebagai seorang muslim, masihkah kita bersikap acuh dan pura-pura tidak tahu tentang hal riba dan bunga ini?


Berikut saya sadur bagaimana Aquinas, Plato dan Aristoles mengecam riba dan bunga dari sebuah tulisan Pak Agstianto:


"Dua tokoh Skolastik yang paling terkenal adalah St. Albertus Magnus (1206-1280) dan Thomas Aquinas (1225-1274). Keduanya sangat mengutuk praktik pembungaan uang. Thomas Aquinas dalam Summa Theologia bahkan dengan tegas menyebut orang-orang yang memperanakkan uang sebagai pendosa. Bagi Aquinas memungut bunga dari uang yang dipinjamkan adalah tidak adil dan sama artinya dengan menjual sesuatu yang tidak ada.


Sejarah mencatat, bangsa Yunani kuno yang mempunyai peradaban tinggi, melarang keras peminjaman uang dengan bunga. Aristoteles dalam karyanya politics telah mengecam sistem bunga yang berkembang pada masa Yunani kuno. Dengan mengandalkan pemikiran rasional filosofis, tanpa bimbingan wahyu, ia menilai bahwa sistem bunga merupakan sistem yang tidak adil. Menurutnya uang bukan seperti ayam yang bisa bertelur. Sekeping mata uang tidak bisa beranak kepingan uang yang lain. Selanjutnya ia mengatakan bahwa meminjamkan uang dengan bunga adalah sesuatu yang rendah derajatnya.


Sementara itu, Plato (427-345 SM), dalam bukunya LAWS , juga mengutuk bunga dan memandangnya sebagai praktik yang dzholim. Menurut Plato, uang hanya berfungsi sebagai alat tukar, pengukuran nilai dan penimbunan kekayaan. Uang sendiri menurutnya bersifat mandul (tidak bisa beranak dengan sendirinya). Uang baru bisa bertambah kalau ada aktivitas bisnis riel. Dua filosof Yunani yang paling terkemuka itu dipandang cukup representatif untuk mewakili pandangan filosof Yunani tentang bunga".

MENGAPA HARUS BERUSAHA JIKA SEMUA SUDAH DITETAPKAN ALLAH?

Minggu, 28 Desember 2014

"...Bekerjalah hai keluarga Daud untuk bersyukur (kepada Allah). Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang berterima kasih". (Qs. Saba: 13).


Mungkin kita pernah berkata atau mendengar perkataan berikut ini:


"Mengapa harus bekerja, toh Allah sudah tentukan rezeki kita. Kalau emang ditakdirin kaya, kita tiduran di rumah aja bakal kaya kok".


Duh, ini cara pandang yang keliru. Cobalah baca kalimat berikut ini perlahan:


"Yang datang belakangan tidak akan menjadi sebab bagi yang telah ditetapkan terlebih dahulu. Apa yang telah ditetapkan pada zaman azali: jodoh, usia dan rezeki sebelum adanya permintaan dan amalan, jadi tdk akan diubah dengan permintaan dan amalan".


Silahkan dibaca ulang perlahan sekali atau dua kali lagi.


Jika demikian, mengapa kita harus bekerja untuk mencari rezeki?


Saya kira, pertanyaan semcam ini memiliki subtansi yang sama ketika Rasul saw ditanya oleh sang istri ra:


"Wahai Rasul saw, mengapa engkau beribadah seperti ini (hingga kaki beliau bengkak).? Bukankah Allah sudah menjamin engkau akan masuk surga?".


Lihatlah apa jawaban baginda saw:


"Apakah aku tidak boleh menjadi hamba yang bersyukur?".


Cara pandang ini adalah cara pandang yang derajatnya paling tinggi: syukur.


Untuk mempertebal, saya kutip lagi QS. Saba ayat 13: "...Bekerjalah hai keluarga Daud untuk bersyukur (kepada Allah). Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang berterima kasih..".


Setidaknya ada 3 cara pandang (perspektif) dalam beribadah atau bekerja sebagaimana dalam syarah hadits arbai'in annawawi yang pertama:


1. Syukur
2. Harap
3. Takut


Kita terjemahin satu-satu ya :)

Pertama, Syukur.


Allah sudah beri kita beragam nikmat, maka kita bersyukur dengan cara sholat dan beribadah kepadanya.


Allah sudah beri kita potensi untuk bekerja da menghasilkan karya yang bermanfaat, Allah kasih kita akal, tangan, kaki, dan banyak lagi, karena itu kita bersyukur dengan cara menggunakan semua pemberian tersebut untuk berkarya, bekerja dan kebermanfaatan.


Kedua, Harap.


Allah sudah menjanjikan surga bagi orang yang beramal sholih. Maka sebagia orang sholat dan beribadah lainnya karena berharap kelak di akhirat dimasukkan ke dalam surga.


Allah kasih kita potensi dan kemampuan untuk bekerja dan berkarya. Dan kita pun bekerja dan berusaha karena kita berharap kita dapat keuntungan dari usaha tersebut.


Ketiga, Takut.

Allah telah menjanjikan kita neraka jika tidak taat. Maka kita pun beribadah karena takut kelak diakhirat dimasukkan ke dalam neraka.


Allah beri kita potensi. Tapi karena takut miskin, kita mrnggunakan potensi tersebut untuk bekerja dan berkarya.


Lalu, pertanyaan berikutnya adalah:


"Jika amalan kita tidak menjadi sebab atas apa yang Allah tetapkan pda zaman azali terdahulu, mengapa Allah menyuuh kita beramal dan mengapa Allah katakan bahwa setiap amalan ada balasannya?".


Baik, kita coba jawab pelan-pelan ya.


Dala Al-quran banyak sekali ayat yang menyandingkan kata "amal sholih" dengan "surga" dan "maksiat" dengan "neraka". Mengapa demikian?


Ini menunjukkan amalan memiliki hubungan yang sangat dekat dengan ketetapan Allah. Amal sholih sangat dekat dengan surga, maksiat sangat dekat dengan neraka.


So?


Tugas kita adalah memastikan diri setiap saat untuk dekat dengan surga dengan senantiasa beramal sholih.


Untuk mempertebal tulisan saya ini, ada 2 alasan mengapa kita harus bekerja meski Allah sudah membuat ketetapan sebelum kita bekerja:



1. Untuk bersyukur atas semua yang Allah beri untuk kita
2. Memastikam diri selalu dekat dengan surga dengan cara senantiasa beramal sholih/ bekerja dengan dan mengerjakan kebaikan.


Wallahua'lam.

Sampai Kapan Aku Mecintai Dunia?

Sabtu, 27 Desember 2014

Setiap detik aku hrs pastikan bhw aku TIDAK SEDANG MENGEJAR DUNIA!


meski tepuk tangan, popularitas, harta, wanita, dan lainnya seringkali 'membengkokkan' NIAT ini!


Jika pun aku harus bekerja mencari harta, itu karena perintah Tuhanku yg menyuruhku melakukan ikhtiar untk kemaslahatanku. Tidak untuk menjadikan harta sbg tujuan hidupku, apalagi untuk mencintainya.


Sebab para guru dan sahabatku menasihatiku bahwa setiap pecinta akan merasakan sakit yang amat dalam saat berpisah dengan yang dicintainya.


Sedangkan, perpisahanku dengan harta yang setiap saat kukejar, kudamba, kucari, dan mengisi ruang berfikirku adalah KEPASTIAN yg tdk dibantah oleh ilmu dan agama mana pun.


Perpisahan  itu yg kukenal dengan KEMATIAN.


jika setiap saat aku berusaha mencintai harta yang pasti aku berpisah darinya, bukankah itu berarti aku sedang MENGOLEKSI RASA SAKIT untuk nanti aku rasakan saat SAKARATUL MAUT/ berpisah?


"Dunia tidak lebih dari ghuurur"


Para guruku menjelaskanku tentang ghurur/gharar, bahwa itu adalah yang luarnya terlihat indah sehingga menipu, padahal dalamnya busuk.


Orang yg memiliki dunia dan tahu hakikat dunia, maka mana mungkin ia mencintai dunia?


Sementara aku? Hingga kini hatiku dipenuhi dunia. Ruang fikirku setiaps aat dihinggapi kecintaan pada dunia.


Astagfirullah..

SEMUA AGAMA SEPAKAT RIBA HARAM

Jumat, 26 Desember 2014

Tidak ada agama yang menghalalkan RIBA! Bacalah Alquran, Talmud, Exodus, Deutronomy, Levicitus dan kitab Perjanjian Lama, tak ada satu pun yang membolehkanya. Lantas Riba ajaran siapa? Mengapa kini dia menjadi primadona? Kita bawa setiap saat di dompet-dompet kita. Apa kita tidak jijik?


Jangan sampe kita nyaman dengan RIBA DAN BUNGA. Sebab dosanya sama dengan 36 kali BERZINA!


bukankah aristoteles dan plato sekali pun tidak menghendaki adanya riba.


bukankah orang-orang yahudi sekali pun dilarang mempraktekkan pengambilan bunga dalam undang-undang talmud dan bahkan kitab suci perjanjian lama.


bukankah dalam kitab exodus, kitab deuteronomy dan kitab levicitus bunga itu dilarang dengan kerasnya.


bukankah dalam perjanjian baru injil lukas ayat 34 dikatakan dengan tegasnya:


“jika kamu menghutangi kepada orang yang kamu harapkan imbalannya, maka di mana sebenarnya kehormatanmu?”


lalu.. bagaiaman dengan kita sebagai muslim?


lupakah kita bahwa alhakim penah meriwayatakan:


“riba itu ada 73 tingkatan. yang paling ringan daripadanya adalah seumpama seseorang menzinai ibunya sendiri”


begitu juga dengan atthabrani:


“satu dirham dari riba yang diambil seseorang, lebih besar dosanya di sisi allah dari 33 kali berzina dalam agama islam”


begitu juga dengan imam muslim dalam sahihnya:


“rasulullah saw melaknat pemakan riba, orang yang membayarnya, juru tulisnya, dan saksi-saksinya. dia bersabda, ”mereka semua sama!”.


tiba-tiba aku menangisi indonesia..


tepat ketika mataku tertuju pada sebuah paragrap yang diriwayatkan alhakim:


“apabila zina dan riba telah merajalela dalam suatu negeri, maka sesunggguhnya mereka telah menghalalkan azab allah diturunkan kepada mereka”


lalu, siapakah sebenarnya yang kita ikuti?


pernahkah kita mencoba tahu tentang ajaran siapa yang kita junjung tinggi ini?


masihkah dengan nada sinis kita berkata:


“bank syariah itu sama saja, tidak ada bedanya dengan bunga!”


dan


masihkah kita dengan bangga mengoleksi sejumlah rekening yang di dalamnya beranak-pinak bunga dan riba.


dan aku tak sanggup lagi melanjutkan ini, setelah mendengar guruku dengan suara tertahan berkata:


“nak, ternyata kita lebih jijik dengan babi yang kandangnya entah dimana disbanding riba yang sehari-hari kita memakannya”.


Jika terpaksa menggunakan rekening konvensional untuk urusan bisnis, maka jadikanlah ia sebagai hanya tempat singgah, bukan tempat tinggal. Jika transfer sudah masuk, segeralah re-transfer ke Rek. Syariah. Jangan sampai kita, anak kita dan keluarga kita besarkan dan nafkahi dari harta yang bercampur riba dan bunga.


BERKAH ADALAH KEUNTUNGAN YANG BERLIPAT-LIPAT. InsyaAllah, saatnya kita HIJRAH!


Jika anda peduli Syariah, silahkan Like&Share risalah ini

Do'a dan Hujan




menikmati secangkir kopi bersama hujan pagi ini. kupandangi lamat-lamat setiap butiran air keberkahan. di sana ada kesejukan. di sana ada kerinduan. seperti ada sesuatu yang berkelindan di dalam hatiku. aku tidak menduga apa pun tentangmu pagi ini. tapi aku berharap kita sedang menikmati senandung do'a yang sama, yang satu. tentang rasa yang suatu hari nanti pasti akan kita semai. di bawah hujan, rasa kita bermetamorfosis dalam dzikir dan munajad paling syahdu. dan hujan rampung bersama berjuta harap tentang masa masa depan. baiklah, apa pun rasa ini, akan kusimpan rapi untukmu seorang : do'a dan hujan.

Irwan Kelana: Kesadaran Lembaga Keuangan Syariah Bersosialisasi Masih Rendah

Rabu, 24 Desember 2014



Irwan Kelana: Kesadaran Lembaga Keuangan Syariah Bersosialisasi Masih Rendah
Multazam Zakaria, Ketua Umum Islamic Economics Forum SEBI

Berdasarkan data dari Otoroitas Jasa Keuangan (OJK) per Mei 2014 jumlah Bank Umum Syariah (BUS) sebanyak  12; Unit Usaha Syariah (UUS) sebanyak 22; dan BPRS sebanyak 163. Dari sekian banyak lembaga keuangan syariah, hanya beberapa saja yang aktif bersosialisasi melalui media. Tentu saja ini akan berimbas kepada rendahnya pengetahuan masyarakat tentang indusri keuangan syariah. 

Perbankan Syariah di Indonesia Kehilangan Keberkahan?



Perbankan Syariah di Indonesia Kehilangan Keberkahan?
Multazam Zakaria, Ketua Umum Islamic Economics Forum SEBI

Tahun 2014 menjadi tahun yang cukup memilukan bagi industri keuangan syariah khususnya perbankan syariah. Jika dilihat dari beberapa indikator, dapat kita simpulkan bahwa perbankan syariah selama tahun 2014 mengalami penurunan yang cukup memprihatinkan. 

Menyendirilah dalam Gelap

Selasa, 23 Desember 2014


Ada masa dimana engkau sendiri bingung dengan dirimu sendiri. 


Ada masa dimana engkau sendiri tidak mengenal dirimu sendiri. 


Ada masa dimana engkau tidak tahu harus mendengar apa dan siapa. 


Mengapa demikian bisa terjadi?


Engkau bingung dengan dirimu, karena engkau selalu mengabaikan dirimu yang 'sebenarnya' dan jarang mengajaknya bicara. 


Terlalu besarnya hasratmu terhadap dunia dan selainmu menyebabkan engkau melupakan dirimu. Kau terfokus melihat yang di luar dirimu lalu mengacuhkan yang di 'dalam' dirimu. 


Segalanya yang dari dunia memenuhi ruang fikir dan ruang pandangmu. Sehingga tidak ada lagi ruang untuk berfikir tentang dirimu yang 'sebenarnya' dan untuk memandang dan mengenal siapa dirimu. 


Karena itu, cobalah sesekali engkau menyendiri dalam gelap. 


Dengan begitu, matamu tidak akan menyaksikan dunia lagi. 


Dengan begitu, mata batinmu akan sedikit terbantu untuk melihat dirimu dalam arti yang sebenar. 


Sesekali, menyendirilah dalam gelap dan lupakan semua hasrat duniamu. 


Lupakan semua semua keinginanmu atas segala kesemuan yang kau angan-angankan. 


Sekarang, engkau hanya dalam kegelapan. 


Dalam kegelapan, bukankah kau melihat dirimu dengan sangat lebih jelas? 


Dalam terang, bukankah sebelumnya kau rabun dengan dirimu sendiri: hiperopia. 


Ada baiknya, mulai saat ini kita belajar mencintai 'kegelapan'. Karena bisa jadi, ISTIGFAR para pendosa jauh lebih hebat dari amalan yang kita banggakan. 


Sudah saatnya kita untuk belajar memandang tidak dengan sebelah mata. 


Sesekali, menyendirilah dalam gelap. 


Lalu tutuplah telingamu, agar tak kaudengar lagi apa pun dunia dan hasrat kesemuanmu. 


Sehingga, hanya bahasa hatimu yang kaudengar sekarang.


Dengarlah, dan bercakaplah dengan hatimu sendiri. 


Lupakan semua goadaan hasratmu. 


Lihatlah, betapa hatimu sendiri amat rindu kausapa.


Lihatlah, bukankah dalam 'ketulian' justru engkau dengan sangat jelas mendengar apa yang hatimu katakan? 


Sesekali, 


Menyendirilah dalam gelap,


Tutuplah telingamu,


Dan rasakan kelezatan bercengkrama dengan dirimu sendiri,


Dengan Tuhanmu. 

Ketika Hadratussyeikh Hasyim Asy'ari Dibenci Santrinya

Sabtu, 20 Desember 2014

Bismillah.. assalamu'alaiku wr wb. Semoga sehat semua pars pengunjung blog yg sederhana ini. :)

Hehe.. sepertinya melihat secara 'parsial' kadang2 mmbuat diri kita mnjdi musuh bgi diri kita sendiri. Musuh kita bkn orang lain, yg mmbuat kita terikat dan terpenjara bukan orang, diri kita sendiri.

Aku tak bermaksud membela siapa pun, tpi yg kusampaikan adalah input yg kudapatkan. Dan,, sy jg akan sangat memaklumi siapa pun dg beragam perbedaan sikap dan pandangan.

Aku jadi teringat dg Hadratussyeikh Hasyim Asy'ari. Beliau punya murid kesayangan. Beliau yg merawat sejay kecil, mendidik, hingga menikahkannya. Namun suatu saat, sang murid kesayangan marah, tidak setuju dg sikap hadratusyeikh, akhirnya sang murid beranggapan bahwa hadratusyeikh tdk cocok mnjdi pemimpinnya, sehingga sang murid pergi dan meninggalkan beliau.

Mengapa?  Karena dalam kejelasan kdang ada ketidakjelasan. Apa yg diketahui hadratussyeikh tdk smua dpt diceritakan kpd muridnya. Akibat ketidaktahuan itulah sang murid mengagap hadratssyeikh telah berubah.

Dan suatu saat, sang murid menyesal bukan main. Surban hdratusyeikh dicium sambil menangis tnp sepengathuan hadratussyikh.

Lalu siapa sebenrnya yg mnjdi musuh sang murid?

Apakah hadratussyeikh?
Ataukah ketidaktahuan sng murid itu sendiri?

Wajar jika ada peribahasa berkata: annasu a'daun ma jahilu (manusia itu musuh ats yg tdk diketahuinya, maka berhati2lah).

Uhibbukum Fillah..

Bertubuh Pendek? Berbahagialah!

Rabu, 17 Desember 2014

Bismillahirrahmanirrahim. Alhamdulillah.. seger nih pagi-pagi update blog. Sambil minum teh anget dan makan biskuit. Hihi.

Oya, pagi ini mau nulis tentang orang pendek. Hmm.. untuk siapa pembaca yang bertubuh pendek (termasuk saya.. wkwk), sikap pertama yang harus kita miliki adalah bersyukur. Kenapa bersyukur? Karena kalau ga bersyukur  maka kita ga akan bahagia. Jadi, kalau mau bahagia, bersyukurlah, meski tubuhmu pendek. (Santai brosis, ini pengantar,, wkwk :D )

Hmm.. sebenernya kita gaharus minder jika bertubuh pendek, karena penilaian orang sebenernya itu ada pada kualitas diri kita. Kalau kita berkualitas, punya kompetensi, siapa pun akan respect sama kita, insyaAllah. Jadi, tips kedua jadi orang pendek adalah tingkatkan kualitas/kompetensi diri.

Gapunya banyak bekel sebenernya pagi ini buat nulis tentang orang pendek. Hehe. Karena itu cukup sekian ya., hehe.

Eiiits,, sebelum itu ada yang mau saya ceritakan. Ini pengalaman pribadi, eaa :D

Dalam sebuah pelatihan yang dinarasumberi oleh salah seorang peneliti dari UIN SH Jakarta, beliau mengungkapkan sesuatu yang saya tidak tahu maksud beliau yang sebenarnya; apakah sekedar guyon atau serius. Hehe.

Beliau adalah salah seorang peniliti dengan jam terbang yang cukup waw, sejumlah paper beliau tembus di sejumlah jurnal internasional. Tapi ada satu hal yang mengganjal, sampai sekrang belia tak kunjung bergelar doktor padahal sudah cukup lama mrnamatkan magisternya.

"Apa karena saya berbadan tinggi dan besar?", tanya retorik beliau disambut gelak tawa dari peserta pelatihan.

Beliau melanjutkan:

"Saya heran, profesor-profesor di UIN itu rata-rata orangnya pendek-pendek, termasuk Prof. Komar (Rektor). Apa iya orang pendek itu punya tingkat kejeniusan yang lebih dari orang yang bertubuh tinggi?", tanyanya dan sontak disambut kehebohan para peserta.

Hihi..

Gimana ceritanya?

Udah pada semangat belum nih orang-orang pendek?

Harus dong, harus semangat, tetap semangat dan selalu semangat!

Okey, udah dulu ya. Mau ngabisin teh dulu, keburu dingin. Hihi

Wallahua'lam. Wassalamu'alaikum wr wb.