Pages

KHUTBAH JUM’AT : MENYAMBUT PEMILU (Kepemimpinan dan Politik dalam Islam, Golput dan Pemilu Damai)

Kamis, 27 Maret 2014



KHUTBAH JUM’AT : MENYAMBUT PEMILU
(Kepemimpinan dan Politik dalam Islam, Golput dan Pemilu Damai)

Oleh: Multazam Zakaria (Khadim Pondok Pesantren Al-Madani)

KHUTBAH PERTAMA :

إِنَّ الْحَمْدَ لله نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بالله مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ الله فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إله إلا الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.

يَاأَيُّهاَ الَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا الله حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ
يَاأَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيرًا وَنِسَآءً وَاتَّقُوا اللهَ الَّذِي تَسَآءَلُونَ بِهِ وَاْلأَرْحَامَ إِنَّ الله كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا الله وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيدًا . يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَن يُطِعِ اللهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا

أَمَّا بَعْدُ: فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيْثِ كِتَابُ الله وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صلى الله عليه و سلم وَشَرَّ الْأُمُوْرِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ، وَكُلَّ ضَلَالَةٍ فِي النَّارِ. اللهم صَل عَلَى مُحَمدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلمْ

Ma'asyiral Muslimin Rahimakumullah
Pada kesempatan yang mulia ini, di tempat yang mulia, dan di hari yang mulia ini, marilah kita selalu menjaga dan meningkatkan mutu keimanan dan kualitas ketakwaan kita kepada Allah dengan sebenar-benarnya, yaitu ketakwaan yang dibangun karena mengharap keridhaan Allah Subhanahu Wata’ala dan bukan keridhaan manusia, ketakwaan yang dilandasi karena ilmu yang bersumber dari al-Qur`an dan Sunnah Rasulullah, dan ketakwaan yang dibuktikan dengan amal perbuatan dengan cara menjalankan setiap perintah Allah dan NabiNya karena mengharap rahmat Allah Subhanahu Wata’ala dan berusaha semaksimal mungkin menjauhi dan meninggalkan setiap bentuk larangan Allah dan NabiNya karena takut terhadap azab dan siksa Allah Subhanahu Wata’ala. 

Kultwit #AmazingWudhu

Selasa, 25 Maret 2014

1.Bismillah, kali ini saya mencoba kultwit ttg #amazingWudhu. Sebuah inspirasi dari bunda  @MarwahDaudIbrah (Presidium ICMI 2013) #amazingWudhu

2.Sayang sekali saya belum pernah ketemu dengan bunda @MarwahDaudIbrah, padahal pernah hampir, tapi Allah belum berkenan. #amazingWudhu

3.Lewat tulisan beliau ‘wudhu’ menggambarkan betapa wudhu kaya akan pemaknaan #amazingWudhu

4.Bukan wudhu biasa, bukan sekedar cucui tangan atau muka, tapi wudhu yang penuh penghayatan dan pemaknaan, inilah yg kemudian sy sebut #amazingWudhu

6.Mari mulai #amazingWudhu

7.Allah tahu kita tak henti melakukan hal kotor, karenanya Ia titahkan untuk tetap bersuci dengan #amazingWudhu

8. dimanapun, dan kapanpun, kantor, kampus, pasar, tetap hiasi wajah kita dengan #amazingWudhu

9. saat kubasuh kedua tangan, aku pinta semoga tangan ini Kau bombing utk menghasilkan hal bermanfaat bagi sebanyak mungkin orang. #amazingWudhu

10. semoga engkau jauhkan dari menyentuh hal-hal yg Kau haramkan #amazingWudhu

11. saat berkumur-kumur, sering  aku mengabil waktu khusus untuk berdoa tulus semoga lidah ini senantiasa melafazkan zikir #amazingWudhu

12. melantunkan ayat dan shalawat, mengeluarkan kata hikmah yang menginspirasi sebanyak mungkin orang #amazingWudhu

13. hanya berucap bahasa yang santun, dan semoga hanya menerima barang halal untuk tubuhku #amazingWudhu

14. saat tiba gilirannya air mmembasuh wajah, berbisik semoga wajah ini hanya menatap sumber pantulan cahaya-Mu #amazingWudhu

15. dan Kau palingkan dari hal yg Kau benci #amazingWudhu

16. tibalah air itu pada kedua lengan, hati bergemuruh seraya berseru, semoga lengan ini Kau beri kekuatan untuk mengangkat derajat kemanusiaan #amazingWudhu

17. meluruskan jalan peradaban yang bengkok, meneolong mereka yang paling teraniaya, menderita, dan jauh dari rasa keadilan #amazingWudhu

18. sampailah pada dahi dan kepala, basuhan lebut itu, dengan satu pinta agar diberi ilham #amazingWudhu

19. berupa fikiran yang cemerlang yg dpat member solusi bagi banyak permasalahan #amazingWudhu

20. agar Kau beri petunjuk dan singkap ilmu dan rahasia-Mu #amazingWudhu

21. jemari tiba di daun telinga, semoga Kau izin dengar hal indah dan bermanfaat #amazingWudhu

22. tibalah pada kedua kaki, airpun menyirami, maka kupinta agar kaki ini kau tuntun ke jalan pengabdian pada-Mu, agama, bangsa, dan ummat #amazingWudhu

23. jalan yang penuh keselamatan dan terhindar dari bencana #amazingWudhu

24. mari melatih diri, agar setiap basuhan melahirkan jutaan makna, agar setiap wudhu kita menjadi #amazingWudhu

25. selamat mempraktikkan, semoga bermanfaat #amazingWudhu

26. terimakasih kepada bunda @MarwahDaudIbrah  yg telah bersedia menajdi inpirator dalam hidup sya #amazingWudhu

27. Mohon maaf bila ada yg keliru. Kebenaran hakiki hanya milik-Nya. Wallahu a’la wa a’lam #amazingWudhu

Persahabatan yang Kering

Kamis, 09 Januari 2014

Mengapa sulit sekali rasanya menikmati manis buah persahabatan, sepertinya ada indra yang tidak berfungsi wajar. Atau mungkin di sejumlah episode, nurani kita masih menjlema tembok tebal. Aku merasa tersudut di bawah cahaya temaram ruang persahabatan kita. Aku khawatir, jangan-jangan miliaran detik kebersamaan belum mampu mengantarkan hati kita pada sebuah titik pertemuan. Aku semakin ragu dengan janji setia yang begitu mudah meminjam nama Tuhan, ternyata kering jiwa merindu sentuhan. Duhai Pemilik Semesta, sudi kiranya kau titipkan cinta pada kami, agar bisa kunikmati manisnya, menyirnakan haus yang tiada tara.

Impian ini Tetap Milik Kita

Aku sama sekali tidak menyesal dengan semua ketidakpastian ini, kita telah sepakat. Apapun yang mereka katakan tentang kita, impian ini tetaplah milik kita. Aku tidak tahu sebarapa kuat aku dan kamu di labirin ini, menelan semua ketidakpastian dan perkataan orang. Yang aku yakini, Tuhan tidak buta dan tuli. Bila banyak orang tak mempercayai, akankah kita gadaikan idealisme dan janji setia dengan ketidakpercayaan kita terhadap diri kita. Sepertinya itu bukan pelepasan yang bijak, Sayang! Kita terlanjur berani sejak awal, dan hari-hari setelah ini kita akan bicara tentang pembuktian. Bersama setumpuk agenda kerja yang berserakan, dekap erat Tuhan melalui dzikir dan wirid terhening. Mari kita lanjutkan!

Pulang Sebelum Waktunya

Aku agak sedikit geli, bila harus menggadaikan janji meski dengan kerinduan: pulang sebelum waktunya. Bagaimanapun, mentari esok belum tentu milik kita. Menghabiskan hari-hari bersama sejumlah orang tercinta, sepertinya cukup mahal, karenanya harga ini harus kita bayar. Aku tidak ingin kehilangan saat-saat terindah bersamamu, apapun itu, kaulah yang pertama di hatiku. Tunggu aku di pelatarn rumah, meninggalkan status quo, meski tak segagah yang kau inginkan. Mari genapkan!

Tidak Banyak yang Bisa Mendengar

  Kisah kita begitu jadi sangat menarik, meski tentang kefatalan moral yang sempat kita gadaikan dalam beberapa episode kehidupan. Sudah seharusnya, di antara kita ada yang siap untuk mendengarkan, kisah koyak-moyak masa lalu dengan segenap pengertian. Malam ini, ingin kuabadikan ketulusan seorang sahabat. Kebahagiaan tidak selamanya diwakili senyum dalam setiap pertunjukan, justru seringkali tangisan mewakili kebahagian-kebahagiaan hebat yang pernah singgah dalam hidup kita dan mereka. Bila ada yang ingin kau catatkan malam ini: experiences is the best teacher! 

Selamat Datang Kejayaan! [2]

Selasa, 31 Desember 2013

Inilah masa-masa tersulit yang tidak
bisa kumengerti. Ucapan tahniah
dan do'a seakan-akan sebagai
penghibur atas sesuatu yang telah
hilang dariku. Sebentar lagi malam
digulung mentari, sebentuk
keberanian kemarin ingin kusaksikan
lagi hari ini. Menekuri sisa waktu
hidup, mengapa harus mendikte
kematian? Bagaiamana mungkin aku
bertemu Sang Kekasih sementara
aku tak ingin pulang dari
perantauan? Bila memang kematian
adalah satu-satunya jalan kembali
dari perantauan singkat ini, baiklah,
mulai saat ini, aku akan belajar
untuk siap menghadapinya. Tuhan,
kata mereka usiaku bertambah.
Inilah gejala terbesar bahwa
kedatanganku menuju-Mu sebentar
lagi tiba. Sebelum itu datang,
izinkan aku menggenapkan segala
janji setia untuk setiap nurani yang
aku dan Kau mencintainya. Maafkan
semua ketidakseriusan selama ini,
mari kita genapkan shubuh dengan
keberanian yang utuh, yang telah
kita sepakati.

Selamat Datang Kejayaan!

Senin, 30 Desember 2013

Baiklah, semestinya pagi ini kita sarapan dengan sebentuk keberanian yang utuh, untuk keluar dari semua ketidakseriusan ini. Mengakhiri tahun ini, keinsyafan adalah kado paling istimewa. Aku kira ada keasyikan tersendiri yang kita temukan sepanjang perjalanan nanti, memulai tahun baru dengan peta hidup pada halaman sekian kesungguhan. Sudah saatnya kita fokus pada satu titik, nilai kemanusiaan, untuk masa depan. Mari kita lanjutkan perjalanan!

Natal, Toleransi dan Hiperopia [Sebuah Otokritik]

Kamis, 26 Desember 2013




Perdebatan tentang hukum mengucapkan ‘selamat natal’ bagi seorang muslim sepertinya sudah menjadi topik diskusi tahunan, kita bisa saksikan kenyataan ini. Perbedaan dalam fiqih ‘amaliyah rupanya sudah menjadi keniscyaan, inilah yang mengantarkan kita sehingga mengenal empat madzhab: Hanbali, Maliki, Syafi’i, dan Hanafi. 
 Toleransi atau yang dikenal dengan tasaamuh  dalam Islam adalah sikap mulia yang harus dimiliki seorang mukmin. Harus diakui, domain toleransi ini hanya pada koridor sosial kemasyarakatan, adapun dalam aqidah dan ketauhidan toleransi tidak berlaku. 
Sebenarnya bukan natal yang akan penulis bicarakan di sini, tapi toleransi begitu terlihat menarik karena telah dijadikan alasan utama bagi yang membolehkan mengucapkan selamat natal bagi seorang muslim. Menyaksikan berbagai kenyataan dan fakta tentang usaha mengkorelasikan natal dengan toleransi, menimbulkan ‘kegelian’ tersendiri. Justru ‘magnet’ toleransi bukanlah tentang perbedaan pendapat yang ada di dalamnya, tapi tentang gejala hiperopia yang secara sadar atau tidak telah menjangkiti kita, umumnya. 
Gejala hiperopia atau rabun dekat, benar-benar kita saksikan hampir telah mewabah di tubuh ummat ini. Jika boleh meminjam peribahasa ‘semut di seberang lautan terlihat tapi gajah di depan mata tiada terlihat’, sepertinya keadaan inilah yang sedang kita alami. Kita tiba-tiba muncul dengan sebentuk gairah ketika berada dalam diskusi-diskusi yang membahas tentang perbedaan pendapat dalam hal boleh atau tidak mengucapkan selamat natal bagi seorang muslim, namun tiba-tiba kita harus menutup mata dengan kondisi sosial kemasyarakatan yang paling dekat dengan kita, keluarga, tetangga, dan  seterusnya hanya karena berbeda madzhab, organisasi massa (ormas), partai, dan bahkan hanya karena berbeda guru ngaji
Perbedaan ormas atau madzhab. Kita tidak dapat menutup mata atas keyataan ini, sudah berapa banyak konflik antar sesama muslim hanya karena perbedaan ormas dan madzhab. Sudah berapa banyak perdebatan yang dipenuhi kata-kata kasar dan kotor antar sesama muslim hanya kerana perbedaan partai dan guru ngaji. Saling menyalahkan, masing-masing merasa diri paling benar, bahkan sampai pada level takfir atau mengkafirkan, antar sesama muslim. 
Lalu dimana nilai-nilai toleransi yang kita agung-agungkan, tenggang rasa, sikap saling menghargai dan menghormati. Bagai mencari jarum pada tumpukan jerami. Lalu mengapa begitu mudah kita ‘jagokan’ toleransi kepada yang berbeda agama? Apakah sesama muslim tidak berhak menikmati manisnya buah toleransi yang selama ini kita tanam pada lahan kehidupan sosial dan bermasyarakat? Bukankah keempat imam madzhab yang kita anut telah mencontohkan nilai-nilai toleransi dianatara mereka? Ini adalah ‘pekerjaan rumah’ yang harus segera kita jawab dan selesaikan. 
Penulis ingin mengajak kita merenungi sikap tasaamuh di antara keempat madzhab di atas. Empat madzhab sunni tidak pernah mengklaim bahwa diri merekalah yang paling benar sedang yang lainnya adalah sesat. Imam Maliki pernah ditawari khalifah untuk menyatukan ummat islam dengan berpegang pada kitab al-Muwattho’ nya, tapi beliau menolak karena menghargai pendapat hasil ijtihad  para ulama yang lain. Imam Syafi’i bahkan pernah mengungkapkan bahwa dirinya hanyalah manusia biasa yang mungkin saja hasil ijtihad nya salah, karenanya boleh ditinggalkan untuk mengikuti yang lain. Begitu juga dengan imam Hanafi dan Hanbali, mereka tidak pernah mengklaim bahwa pendapat merekalah yang paling benar.
“Perumpamaan orang islam di dalam sayang menyayangi dan kasih mengasihi adalah bagaikan satu tubuh yang apabila ada salah satu anggota yang sakit maka anggota tubuh yang lain akan merasakannya yaitu tidak bisa tidur dan merasa demam.” (H.R. Muslim). Jika membaca hadits ini, terlihatlah betapa kita begitu memperhatikan dan merawat tubuh orang lain, tapi menyakiti dan melukai tubuh kita sendiri.
Sebagai penutup, “Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap suatu kaum mendorong kamu untuk berlaku tidak adil (semena-mena). Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada taqwa. Dan taqwalah kepad Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan." (Q.S. AlMaidah:8). Gejala hiperopia ini disebabkan oleh kedangkalan kita terhadap ilmu, dan agama. sehingga seringkali dengan mudah kita menerapkan nilai-nilai toleransi antar agama, tapi justru meninggalkannya antar sesama muslim. Dan pada akhirnya, domain toleransi tetaplah pada koridor sosial dan kemasyarakatan, tidak berlaku dalam hal aqidah dan ketauhidan. “Untukmulah agamamu dan untukkulah agamaku".  (QS. AlKafirun:6). Wallahua’lam.

Taman Kecurigaan?



Aku belum juga mengerti, mengapa hubungan kita masih saja seperti ‘bermain-main’. Diskusi-diskusi tentang totalitas tempo hari sepertinya hanya pernyataan retorik yang tidak membutuhkan jawaban dalam tataran praksis. Apa mungkin karena kehadiranku yang belum sepenuhnya kugenapkan untukmu, pun juga kehadiranmu yang belum sepenuhnya untukku? Mungkin kah kemuliaan itu kita raih di taman kecurigaan? Aku harap idealisme yang selama ini kita pertahankan, tidak tergadaikan oleh sejumlah agenda kerja di luar kewajaran kemanusiaan yang kita sepakati. Senja ini, bersama secankkir kopi kukenang kesetiaan masa lalu, tentang gairah, cita-cita, balas budi, pembuktian cinta, dan sejumlah kenangan manis-pahit saat membersamaimu. Sekarang, sudah saatnya kita bongkar semua masa lalu itu, bukan untuk merusak irama perjalanan ini, aku akan tetap menunggumu hingga ujung kibasan ekor kesadaran. #DialogSenja


Di Perbatasan Kota

Rabu, 25 Desember 2013

Senja kali ini, sengaja kuhabiskan di perbatasan kota. Ingin kunikmati lagi manisnya perantauan, yang dulu di awal keberangkatan pernah singgah dalam catata sejarah kita. Ketika idealisme mulai krisis gairah, mimpi-mimpi besar lenyap dalam keasyikan kerja, kuharap ada ombak yang bisa kusaksikan di antara peluh keringat para supir di terminal ini. Barangkali kita masih ingat kisah mega dahsyat Musa dan ikannya, majma'al bahrain, ingin kusaksikan tayangan ulangmu di sini. Apa yang salah? Mengapa ombak begitu amat diharapkan, apa iya rutinitas selama ini membuatmu jenuh dan bosan? Mengapa harus melakoni apa yang tidak kau kehendaki? Apa iya hidup ini bagimu hanya pentas murahan tanpa penonton?  Penyandraan ini kau tahu amat kejam, aku heran justru kau terus belajar menikmatinya, padahal Tuhan telah hadiahkan kemerdekaan. Merantaulah! #DialogSenja

Sudah Genap Empat Senja

Sudah genap empat senja, tak kucatatkan apapun tentang keberadaanmu di sini. Aku khawatir, kita tidak lagi punya bekal yang cukup untuk singgah lebih lama lagi, di ruang persahabatan yang beku. Jika kau masih ingat malam itu, ada pelukan yang kita nikmati. Setidaknya, itu adalah ikhtiar paling wajar untuk mengundang kehangatan yang telah lama gaib dari labirin kita. Bila ada yang ingin kau catatkan pagi ini : temani aku menikmati pertunjukan senja nanti #DialogEmbun