![]() |
| Tempat: Dangau Auliya, Bogor- Jawa Barat |
Warna apa pun itu
Jumat, 09 Mei 2014
Guru Ruhani dan Tentang Kematian
Selasa, 06 Mei 2014
Bismillahirrahmanirrahim. Alhamdulillah, banyak agenda kerja dapat terselesaikan hari ini. Menjelang malam, lelah mulai terasa. Tapi semua itu sirna berkat siraman penyejuk Sang Guru Ruhani yang Mulia.
Siapa Guru Ruhani itu? Iyalah Syeikh Dr. Dhiyauddin. Seorang Guru Tasawwuf yang lembut hatinya dan mulia akhlaknya, ialah titisan dari pada Sunan Giri.
Sejak kapan saya mengenal beliau? Sekitar tiga tahun lalu beliau berkunjung ke Lombok bersama Syeikh Rohimuddin Annawawi. Memberikan ceramah dan penyejuk jiwa. Setelah itu, jarang sekali mendengar kabar tentang beliau. Hingga akhirnya beberapa bulan yg lalu saya berteman dg akun faceboook beliau g nama Emdeka Saka Guru.
Setiap status facebook beliau sarat dengan makna dan kesejukan. Saya sering meminta pendapat dan pencerahan kepada beliau melalui inbox fb. dan pada sejumlah status terjadi percakapan bersama beliau.
Malam ini, saya menulis status yang juga saya BC kepada sejumlah kontak whatsapp saya. Di facebook, saya tag beliau dan sejumlah sahabat. hingga terjadilah percakapan sebagai berikut:
Status saya: Senja telah rampung. Adakah egoisme masih kita rawat? Setelah matahari memainkan pentas ke-fana-an. Bahwa semua akan tenggelam. Semua akan hilang. Semua akan lenyap. Semua akan berakhir. Mati, kepastian paling misterius itu harusnya membuat kita selalu terjaga. Di atas langit, masih ada langit. Masih adakah yang layak untuk kita sombongkan? Sahabat, bila malam ini ada yang ingin kau catatkan : kuburan itu hanya seluas badan.
KOMENTAR
Emdeka Saka Guru: Saking besarnya anugerah di balik kematian,maka ia di sembunyikan di balik peti ketakutan
Multazam Zakaria: ayahanda Syeikh Emdeka Saka Guru, bimbinglah kami untuk belajar ttg kematian. sungguh, kami belum punya pemahaman.
Emdeka Saka Guru: Yang di dambakan tersembunyi di balik yg tdk disukai, contoh sehat tersembunyi di balik obat yg tdk disukai, begitu jg syurga tersembunyi di balik kematian yg di benci
Multazam Zakaria: Allaah.. Allah.. Allah.. (saya tidak tahu harus mengatakan apa-apa lagi)
Emdeka Saka Guru: Kita harus banyak beramal sholeh u menghadapi kematian, tp jangan bergantung padanya,krn setiap kebergantungan pada selainNYA adalah syirik termasuk bergantung pada amal.Lalu bagaimana?
ALLAH tlh memberi petunjuk dlm ayatNYA " Hai orang 2 beriman bertaqwalah pada ALLAH dg sebenar2 taqwa dan jangalah kamu mati kecuai dlm keadaan BERSERAH DIRI/ taslim(qs 3 ; 102 )
Banyak orang kl di tanya belum siap mati krn merasa belum punya banyak amal,berarti dia bergantung pada amal
Ketahuilah berserah diri/ taslim itu adalah induk segala amal(ummul ibadah), sholat, puasa zakat haji dll amal dhohir itu semua hanyalah serpihan atau derivat saja dari TASLIM
Maka seorang yg tlh berhasil mencapai maqom taslim/ keberserah dirian secara total pada ALLAH berarti ia tlh lulus sbg hamba ALLAH dan tlh siap di panggil dg panggilan ' irji'ii ila robbiki rodhiyatan mardhiyah fadzhuli fi IBADY fadzhuli JANNATY
Multazam Zakaria: allahu akbar.. aduhai bahagianya diriku Allah takdirkan mendapat bimbingam dari ayahanda Emdeka Saka Guru. sirna segala haus, lenyap segala lelah. semoga Allah panjangkan umur ayahanda, dan Allah sehatkan selalu..
saaalam 'alaika ya sayyidii..
Emdeka Saka Guru: Alaikaasalam wr wb.Berkah berkah berkah smg sll meliputimu dan keluargamu.
Demikian percakapan saya malam ini dengn Guru ruhani tentang kematian. Sengaja saya share dengan harapan juga bisa menajdi bimbingan dan penyejuk bagi sahabat yang membacanya.
Depok, 6 Mei 2014
Multazam Zakaria
Tidak Ada Alasan untuk Menolakmu
Minggu, 04 Mei 2014
Aku tidak lagi punya alasan apa pun untuk menolakmu. Engkau terlanjur hadir di sini. Di ruang ketulusan. Egoisme dan kesombongan kaulebur dalam wirid-wirid sunyimu. Malam ini, kita gelar lagi sajadah. Semoga gelap hadiahkan keinsyafan paling mungkin untuk kita. Tidak ada lagi yang perlu kukhawatirkan, setelah kau benar-benar utuh menemaniku menghabiskan malam. Aku semakin tertantang, bersamamu mengabadi. Semoga Allah ridho.
PENGKHIANATAN TERHADAP IBU PERTIWI
Selasa, 01 April 2014
PENGKHIANATAN TERHADAP IBU PERTIWI
Multazam Zakaria
Khadim Pondok Pesantren Al-Madani & SEBI School of Islami Economics
Indonesia dengan segala keindahannya disebut-sebut sebagai sepenggal firdaus pada hamparan khatulistiwa. Dan kita pun memaklumi itu karena kita juga turut serta menikmatinya. Akan tetapi, kita juga tidak bisa menutup mata atas pelbagai kenyataan yang kita semua menjadi saksinya: korupsi, kemiskinan, kenakalan remaja dan pelbagai permasalahan lainnya dalam berbagai sektor; pendidikan, sosial, ekonomi dan lainnya. Inilah yang akan menjadikan kita terus bertanya-tanya ‘di mana sepenggal firdaus yang dielu-elukan itu?’.
Tidak mengherankan jika sebuah hasil survei (Cirus, 15 Desember 2013) akhir-akhir ini menyatakan bahwa hanya 9,4 % responden (2.200 responden diwawancara dengan tatap muka) yang masih percaya dengan partai politik. Sejujurnya ini sangat memilukan dan inilah kenyataannya. Hampir seluruh rakyat Indonesia terjangkiti gejala kanker kronis skeptisme. Ini sangat berbahaya terhadap masa depan Bangsa. Krisis kepercayaan terhadap pemerintah dan politik kita saksikan bertebaran di mana-mana. Bukan tanpa sebab, justru dengan sejuta satu sebab musabbabnya. Dan kita semua mengetahuinya.
Mendekati Pesta Demokerasi 9 April 2014, gejala ini menjadi monster yang mengancam masa depan Ibu Pertiwi. Gejala ini menjelma menjadi sebuah gerakan yang kini semakin digemari : Golongan Putih (Golput). Bisa dikatakkan golput lahir sebagai bentuk kekecewaan dan kemarahan rakyat. Tidak ada lagi yang bisa dipercaya, bahwa politik adalah bohong dan bahwa pemerintah adalah kepentingan pribadi saja. Dari sekian banyak pilihan yang ditawarkan, golput memilih untuk tidak memilih, tidak ikut andil dalam mementukan pemimpin Negara karena golput merasa bahwa Negara (red: pemerintah) juga tidak pernah ikut andil dalam pelbagai persoalan kehidupannya.
Jika golput adalah reaksi wajar atas pelbagai kenyataan yang melanda kehidupan bernegara kita, justru pada kondisi seperti ini kita harus mampu keluar menarik diri dari massa dan memberikan sikap yang baru untuk Indonesia. Mengapa? Sepertinya golput bukanlah pelampiasan yang bijak atas sebentuk kekecewaan ini. Golput melepas diri dari masa depan, dan ini bentuk pengingkaran keniscayaan.
Fatwa golput haram telah kita maklumi bersama. Karena golput bertentangan dengan ajaran agama. Sementara di satu sisi kita terus mengelu-elukan pluralitas beragama di Negara ini. Dalam Islam, putus asa dijadikan indikasi kekufuran (pengingkaran) agama. Maka jelas, jika golput dilatarbelakangi oleh sebentuk keputusasaan maka golput adalah salah satu bentuk pengingkaran agama. Sementara Indonesia adalah tanah haram bagi yang tidak beragama. Jika kita mengamini ini, maka golput adalah sebentuk pengkhianatan terhadap Ibu Pertiwi. Golput adalah bentuk keacuhan terhadap masa depan Indonesia.
Politik adalah sebuah konsep pementasan agung dalam bernegara. Kekecewaan terhadap para pemain pentas (politisi) tidak seharusnya membuat kita menjadikan konsep pementasan (politik) menjadi tumbal dengan berlaku skeptis atasnya. Jika begitu, maka kita sedang menyiapkan diri untuk menjadi korban-korban pemain pentas selanjutnya.
“Kebathilan akan menang jika para pendukung kebenaran dan para pengusung yang haq hanya berdiam diri.”, begitulah Mohammad Natsir menasihatkan. Harusnya nasihat pendiri sekaligus pemimpin partai politik Masyumi ini menjadi landasan paling wajar bagi siapa saja yang mengaku peduli dan cinta kepada Indonesia untuk tidak bergabung dalam gerakan Golput. Kekecewaan rakyat terhadap para pemimpin saat ini harusnya dilampiaskan pada jalur yang tepat dan logis. Ketidakmampuan kita meletakkan emosional di bawah logika hanya akan menyeret kita untuk merasakan luka-luka berikutnya.
Hemat penulis, kekecewaan terhadap para pemimpin dzalim harusnya dilampiaskan dengan mempersempit kesempatan mereka untuk berkuasa kembali. Sedangkan golput justru akan membuka lebar gerbang kekuasaan untuk dimasuki mereka kembali. Maka jelaslah, golput bukanlah pilihan yang tepat untuk mengungkapkan kekecewaan, juga bukan pilihan yang tepat untuk mengungkapkan cinta kepada Indonesia.
Siapakah yang harus kita pilih? Ada empat idiom yang dikenal dalam Islam, khususnya dalam mengambil keputusan; Ilmul Yaqin, Haqqul Yaqin, Ainul Yaqin dan Udzunul Yakin. Ilmul Yaqin adalah metode yang digunakan dalam mengambil keputusan berdasarkan ilmu pengetahuan yang kita miliki. Haqqul Yaqin adalah metode yang diambil setelah melakukan pertimbangan yang masak, baik itu berasal dari intuisi, firasat atau sebagainya. Ainul Yaqin adalah metode mengambil keputusan berdasarkan pertimbangan dari apa yang kita lihat. Udzunul Yaqin adalah mengambil keputusan berdasarkan pertimbangan dari apa yang kita dengar, dan inilah metode terlemah dari empat metode yang ada.
Umumnya, metode yang keempat dan ketiga inilah yang sedang kita lakukan. Kita memutuskan untuk memilih seseorang sebagai pemimpin dan wakil kita berdasarkan apa yang kita dengar dan kita lihat tentang orang tersebut. Jika kita merasa nyaman dengan kedua metode ini maka kita akan sering tertipu oleh berita pesanan di koran, televisi, internet dan lainnya. Bahkan, upacara-upacara dan atraksi pencitraan yang mulai ramai kita saksikan.
Untuk mendapatkan pilihan yang ideal, kita harus meenggunakan metode yang lebih tinggi levelnya; Haqqul Yaqin dan atau Ilmul Yaqin. Dalam Islam kita sering mendengar dan mengungkapkan ayat kedua dari suarat Al-Baqarah la raiba fih, tidak ada keraguan di dalamnya (Al-Qur’an). Ini berlaku khusus kepada Allah, dan berlaku terbalik bagi selain-Nya. Maka kita tidak perlu meyakini apa yang sebenarnya belum kita ketahui tentang manusia. Maka tugas kita adalah mencari tahu sebanyak mungkin hal tentang para calon pemimpin yang akan kita pilih.
Memang, wahyu pertama adalah Iqra’, bacalah! Akan tetapi kita belum cukup hanya dengan membaca untuk menentukan pilihan. Tapi harus bismirabbika alladzi khalaq, kita membaca dengan nama Allah, tidak keluar dari koridor yang semestinya. Sehingga kita betul-betul siap untuk memilih pemimpin terbaik untuk masa depan bangsa kita, Indonesia tercinta. Wallahua’lam.
(Dimuat di Harian Lombok Post, 1 April 2014)
KHUTBAH JUM’AT : MENYAMBUT PEMILU (Kepemimpinan dan Politik dalam Islam, Golput dan Pemilu Damai)
Kamis, 27 Maret 2014
إِنَّ الْحَمْدَ لله نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بالله مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ الله فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إله إلا الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.
يَاأَيُّهاَ الَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا الله حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ
يَاأَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيرًا وَنِسَآءً وَاتَّقُوا اللهَ الَّذِي تَسَآءَلُونَ بِهِ وَاْلأَرْحَامَ إِنَّ الله كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا الله وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيدًا . يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَن يُطِعِ اللهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا
أَمَّا بَعْدُ: فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيْثِ كِتَابُ الله وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صلى الله عليه و سلم وَشَرَّ الْأُمُوْرِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ، وَكُلَّ ضَلَالَةٍ فِي النَّارِ. اللهم صَل عَلَى مُحَمدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلمْ
Kultwit #AmazingWudhu
Selasa, 25 Maret 2014
1.Bismillah, kali ini saya mencoba kultwit ttg #amazingWudhu. Sebuah inspirasi dari bunda @MarwahDaudIbrah (Presidium ICMI 2013) #amazingWudhu
2.Sayang sekali saya belum pernah ketemu dengan bunda @MarwahDaudIbrah, padahal pernah hampir, tapi Allah belum berkenan. #amazingWudhu
3.Lewat tulisan beliau ‘wudhu’ menggambarkan betapa wudhu kaya akan pemaknaan #amazingWudhu
4.Bukan wudhu biasa, bukan sekedar cucui tangan atau muka, tapi wudhu yang penuh penghayatan dan pemaknaan, inilah yg kemudian sy sebut #amazingWudhu
6.Mari mulai #amazingWudhu
7.Allah tahu kita tak henti melakukan hal kotor, karenanya Ia titahkan untuk tetap bersuci dengan #amazingWudhu
8. dimanapun, dan kapanpun, kantor, kampus, pasar, tetap hiasi wajah kita dengan #amazingWudhu
9. saat kubasuh kedua tangan, aku pinta semoga tangan ini Kau bombing utk menghasilkan hal bermanfaat bagi sebanyak mungkin orang. #amazingWudhu
10. semoga engkau jauhkan dari menyentuh hal-hal yg Kau haramkan #amazingWudhu
11. saat berkumur-kumur, sering aku mengabil waktu khusus untuk berdoa tulus semoga lidah ini senantiasa melafazkan zikir #amazingWudhu
12. melantunkan ayat dan shalawat, mengeluarkan kata hikmah yang menginspirasi sebanyak mungkin orang #amazingWudhu
13. hanya berucap bahasa yang santun, dan semoga hanya menerima barang halal untuk tubuhku #amazingWudhu
14. saat tiba gilirannya air mmembasuh wajah, berbisik semoga wajah ini hanya menatap sumber pantulan cahaya-Mu #amazingWudhu
15. dan Kau palingkan dari hal yg Kau benci #amazingWudhu
16. tibalah air itu pada kedua lengan, hati bergemuruh seraya berseru, semoga lengan ini Kau beri kekuatan untuk mengangkat derajat kemanusiaan #amazingWudhu
17. meluruskan jalan peradaban yang bengkok, meneolong mereka yang paling teraniaya, menderita, dan jauh dari rasa keadilan #amazingWudhu
18. sampailah pada dahi dan kepala, basuhan lebut itu, dengan satu pinta agar diberi ilham #amazingWudhu
19. berupa fikiran yang cemerlang yg dpat member solusi bagi banyak permasalahan #amazingWudhu
20. agar Kau beri petunjuk dan singkap ilmu dan rahasia-Mu #amazingWudhu
21. jemari tiba di daun telinga, semoga Kau izin dengar hal indah dan bermanfaat #amazingWudhu
22. tibalah pada kedua kaki, airpun menyirami, maka kupinta agar kaki ini kau tuntun ke jalan pengabdian pada-Mu, agama, bangsa, dan ummat #amazingWudhu
23. jalan yang penuh keselamatan dan terhindar dari bencana #amazingWudhu
24. mari melatih diri, agar setiap basuhan melahirkan jutaan makna, agar setiap wudhu kita menjadi #amazingWudhu
25. selamat mempraktikkan, semoga bermanfaat #amazingWudhu
26. terimakasih kepada bunda @MarwahDaudIbrah yg telah bersedia menajdi inpirator dalam hidup sya #amazingWudhu
27. Mohon maaf bila ada yg keliru. Kebenaran hakiki hanya milik-Nya. Wallahu a’la wa a’lam #amazingWudhu
Persahabatan yang Kering
Kamis, 09 Januari 2014
Mengapa sulit sekali rasanya menikmati manis buah persahabatan, sepertinya ada indra yang tidak berfungsi wajar. Atau mungkin di sejumlah episode, nurani kita masih menjlema tembok tebal. Aku merasa tersudut di bawah cahaya temaram ruang persahabatan kita. Aku khawatir, jangan-jangan miliaran detik kebersamaan belum mampu mengantarkan hati kita pada sebuah titik pertemuan. Aku semakin ragu dengan janji setia yang begitu mudah meminjam nama Tuhan, ternyata kering jiwa merindu sentuhan. Duhai Pemilik Semesta, sudi kiranya kau titipkan cinta pada kami, agar bisa kunikmati manisnya, menyirnakan haus yang tiada tara.
Impian ini Tetap Milik Kita
Aku sama sekali tidak menyesal dengan semua ketidakpastian ini, kita telah sepakat. Apapun yang mereka katakan tentang kita, impian ini tetaplah milik kita. Aku tidak tahu sebarapa kuat aku dan kamu di labirin ini, menelan semua ketidakpastian dan perkataan orang. Yang aku yakini, Tuhan tidak buta dan tuli. Bila banyak orang tak mempercayai, akankah kita gadaikan idealisme dan janji setia dengan ketidakpercayaan kita terhadap diri kita. Sepertinya itu bukan pelepasan yang bijak, Sayang! Kita terlanjur berani sejak awal, dan hari-hari setelah ini kita akan bicara tentang pembuktian. Bersama setumpuk agenda kerja yang berserakan, dekap erat Tuhan melalui dzikir dan wirid terhening. Mari kita lanjutkan!
Pulang Sebelum Waktunya
Aku agak sedikit geli, bila harus menggadaikan janji meski dengan kerinduan: pulang sebelum waktunya. Bagaimanapun, mentari esok belum tentu milik kita. Menghabiskan hari-hari bersama sejumlah orang tercinta, sepertinya cukup mahal, karenanya harga ini harus kita bayar. Aku tidak ingin kehilangan saat-saat terindah bersamamu, apapun itu, kaulah yang pertama di hatiku. Tunggu aku di pelatarn rumah, meninggalkan status quo, meski tak segagah yang kau inginkan. Mari genapkan!
Tidak Banyak yang Bisa Mendengar
Kisah kita begitu jadi sangat menarik, meski tentang kefatalan moral yang sempat kita gadaikan dalam beberapa episode kehidupan. Sudah seharusnya, di antara kita ada yang siap untuk mendengarkan, kisah koyak-moyak masa lalu dengan segenap pengertian. Malam ini, ingin kuabadikan ketulusan seorang sahabat. Kebahagiaan tidak selamanya diwakili senyum dalam setiap pertunjukan, justru seringkali tangisan mewakili kebahagian-kebahagiaan hebat yang pernah singgah dalam hidup kita dan mereka. Bila ada yang ingin kau catatkan malam ini: experiences is the best teacher!
Selamat Datang Kejayaan! [2]
Selasa, 31 Desember 2013
Inilah masa-masa tersulit yang tidak
bisa kumengerti. Ucapan tahniah
dan do'a seakan-akan sebagai
penghibur atas sesuatu yang telah
hilang dariku. Sebentar lagi malam
digulung mentari, sebentuk
keberanian kemarin ingin kusaksikan
lagi hari ini. Menekuri sisa waktu
hidup, mengapa harus mendikte
kematian? Bagaiamana mungkin aku
bertemu Sang Kekasih sementara
aku tak ingin pulang dari
perantauan? Bila memang kematian
adalah satu-satunya jalan kembali
dari perantauan singkat ini, baiklah,
mulai saat ini, aku akan belajar
untuk siap menghadapinya. Tuhan,
kata mereka usiaku bertambah.
Inilah gejala terbesar bahwa
kedatanganku menuju-Mu sebentar
lagi tiba. Sebelum itu datang,
izinkan aku menggenapkan segala
janji setia untuk setiap nurani yang
aku dan Kau mencintainya. Maafkan
semua ketidakseriusan selama ini,
mari kita genapkan shubuh dengan
keberanian yang utuh, yang telah
kita sepakati.
Selamat Datang Kejayaan!
Senin, 30 Desember 2013
Baiklah, semestinya pagi ini kita sarapan dengan sebentuk keberanian yang utuh, untuk keluar dari semua ketidakseriusan ini. Mengakhiri tahun ini, keinsyafan adalah kado paling istimewa. Aku kira ada keasyikan tersendiri yang kita temukan sepanjang perjalanan nanti, memulai tahun baru dengan peta hidup pada halaman sekian kesungguhan. Sudah saatnya kita fokus pada satu titik, nilai kemanusiaan, untuk masa depan. Mari kita lanjutkan perjalanan!
