Pages

Tiba-tiba Aku Merindukan Hadratussyeikh Hasyim As'ary

Selasa, 16 Desember 2014

Bismillah. Alhamdulillah, sejak semalam saya berkesempatan untuk menghayati film Sang Kiai yang menceritakan tentang perjuangan Hadratussyeikh Hasyim Asy'ari Pendiri Nahdhatul 'Ulama.

Saya tidak terlalu tahu dengan NU masa kini, tapi saya sedikit tidak menjadi tahu nafas perjuangan NU. tidak hanya dalam pengajaran agama Islam tpi juga dalam merebut kemerdekaan NKRI.

Rasa-rasanya terlalu cengeng jika sekrang kita terlalu mengeluhkan banyak hal, sejumlah rintangan yang sebenarnya kita mampu untuk menyelesaikannya.

Hadratussyeikh mengalami jauh dqn sangat jauh lebih dahsyat dari sekedar yang kita alami sekarang. Tidak layak untuk dibandingkan, sangat tidak layak.

Hadratussyeikh dipenjara, disiksa, jari-jari tangan beliau dipukul-pukuli, kaki beliau ditendang, diseret, dan lainnya. Belum lagi beliau memikirkan strategi perlawanan tehadao penjajah sampai pada resolusi jihad.

Allah.. rahmatilah beliau selalu. Surga jualah tempat kembali beliau.

dan air mataku tak dapat tertahan, saat harus menyaksikan beliau menghadap Tuhan.

Kami merindukanmu hadratussyeikh,, meski kami tak pernah bertemu denganmu. adakah Hadratussyeikh Hasyim Asy'ari masa kini?

segera utus beliau lagi ke hadapan kami, Allah..

Logo IsEF SEBI, Lambang Yahudi dan Pemuja Setan?

Senin, 15 Desember 2014



Logo IsEF SEBI, Lambang Yahudi dan Pemuja Setan?
Multazam Zakaria, Ketua Umum Islamic Economics Forum (IsEF) STEI SEBI

Bismillahirrahmanirrahim. Sebenarnya saya tidak ada niatan sebelumnya untuk menulis tentang ini, apalagi dengan judul se- ‘serem’ ini. Hehe. 

Pertama, saya ingin sampaikan bahwa sebenarnya saya tidak memiliki kelayakan untuk membahas judul diatas. Ini sangat berat, apalagi kalau bicara tentang lambing-lambang dan pemaknaanya. Saya bisa katakana: “Wilayah pembahasan tentang ini adalah wilayah yang di dalamnya WAJIB ada perbedaan pendapat”. 

Kedua, jika dalam tulisan kali ini banyak terdapat kekeliruan yang para pembaca temukan, terutama para pembaca yang berasal dari kalangan pakar atau pengamat sejarah dan lambing-lambang, atau bahkan dari teman-teman da’I yang mungkin berbeda pendapat dengan saya, saya sampaikan mohon maaf dan silahkan beri koreksi atas tulisan ini. 

FITNAH TERBESAR BAGI LAKI-LAKI

Minggu, 14 Desember 2014


seorang sahabat seperjuangan mengungkapkan keresahannya tentang suatu hal:

"duhai sahabat, sungguh aku gelisah. aku telah jatuh cinta pada seorang wanita. aku tak bisa menahan rasa ini, ingin segera kuungkapkan padanya. meski aku tak bermaksud menjalin hubungan lebih lanjut. bagaimana pendapatmu tentang ini?"

Kartu Kredit Syariah, Syariahkah?


Kartu Kredit Syariah, Syariahkah?
Multazam Zakaria, Ketua Umum Islamic Economics Forum SEBI

Kartu Kredit Syariah, atau sering disebut juga dengan syariah card tentu saja berbeda dengan kartu kredit konvensional. Dimana kartu kredit konvensional menjadikan bungan sebagai sumber utama keuntungan, sedankan syariah card terbebas dari bunga. 

Hakikat Qurban

Jumat, 03 Oktober 2014

QURBAN
----------

seorang teman duduk dalam suatu majlis bertanya tentang qurban.

"duahi sahabat seperjuangan, terangkan kami tentang idul qurban".

duhai sahabat..
Qurban diperakarsai oleh seorang Ayah bernama Ibrahim as ketika mendapat perintah untuk menyembelih anaknya Ismail as. oleh sebab kepatuhannya ibrahim mendapat gelar KHOLILURRAHMAN/Teman Dekat Allah.

Kurban adalah kosa kata bahasa Indonesia yang diadopsi dari bahasa arab yaitu Qurbah yang berarti dekat. dalam bahasa indonesia juga digunakan istilah "Karib" yang artinya teman dekat. Jadi, untuk dapat mencapai kedekatan (qurbah) atau menjadi teman dekat Allah (khalilurrahman) maka dibutuhkan pengorbanan. dalam bahasa arab, pengorbanan semakna dengan kosa kata "tadhiyyah/adha". maka idul adha kita kenal juga dengan idul qurban.

"apa yang harus dikurbankan?", lanjutnya bertanya.

duhai jiwa penasaran..
ketahuilah, saat Ibrahim hendak menyembelih anaknya maka Tuhan memberi perintah agar digantikan dengan seekor domba/hewan.

secara lahiriah, qurban dilambangkan dengan hewan (domba, sapi, dan sejenisnya).

tapi ketahuilah olehmu, hakikat qurban adalah untuk mencapai kedekatan dengan Allah. dan untuk meraih itu maka seorang hamba harus menyembelih hingga mati "SIFAT HEWANI/NAFSU" yang ada dalam dirinya. itulah hakikat qurban yang sejati.

Pelangi

Jumat, 26 September 2014

seorang puteri sambil menangis bertanya:

"mengapa hidupku ini dipenuhi ujian selalu? dan harapanku pada Tuhan tak kunjung terkabulkan?".

duhai puteri kerajaan! ketahuilah bahwa pelangi ada setelah hujan dan petir.

sebagaimana orang mengeluhkan hujan petir tapi menyanjung-nyanjung pelangi, begitulah ujian dikeluhkan padahal setelahnya ada pelangi kehidupan yang menawan.

duhai puteri, sebagaimana setelah hujan menyuburkan tumbuhan, begitulah ujian menyuburkan iman.

lihatlah Ibrahim as, diperintah menyembelih puteranya sendiri dari Hajar ra; dibakar hidup-hidup karena menentang sang raja zhalim. sebesar itukah ujianmu duhai puteri? bila ditimpakan padamu, sanggupkah?

namun jangan salah duga, sebagaimana hujan menyuburkan tanaman dan menumbuhkan tunas-tunas baru, Ibrahim as pun telah Allah suburkan menjadi Nabi dan Ayah para nabi. 

lihatlah Zakaria as, sejak muda meminta anak pada Tuhan. hingga tua, tulang lemah dan rambut memutih, hajatnya belum juga tercapai. akhirnya, sebagaimana pelangi muncul setelah lebatnya hujan, Yahya as hadir sebagai pelangi istimewa setelah beratnya penantian.

o jiwa yang gundah gulana...

yakinlah, Tuhan tak akan ingkar dengan janji-Nya.

SINOPSIS EUFONI CINTA

Minggu, 08 Juni 2014

SINOPSIS BUKU EUFONI CINTA

Judul: Eufoni Cinta
Penulis: Multazam Zakaria
Penerbit: Mujahid Press
Halaman: ix + 153
Ukuran: 14 cm x 10 cm
Harga: Rp. 20.000

Bening, embun hinggap di antara daun dan nurani. Aku bercermin, nampak wajah di antara ada dan tiada. Aku melihat ke belakang, kosong. Hingga kapan pun, aku tak dapat berkompromi dengan waktu. Peron lengang, lokomotif terlanjur melaju kencang. Semoga akan ada cerita indah di sebuah titik pertemuan. Dan aku kembali, sendiri, sunyi, tenang dan bahagia. (Eufoni Cinta)

Eufoni Cinta awalnya hanya kumpulan catatan dalam perjalanan rasa, sebagaimana ditulis Multazam Zakaria dalam pengantarnya. Ia berusaha memasuki segala ruang kehidupan, memberikan pemaknaan. Karena memang cinta tidak memiliki batasan waktu dan ruang, ia mampu singgah kapan dan dimana pun ia berkehendak.

Karenanya, beragam kesan tentang buku yang mungil ini: persahabatan, percintaan, motivasi hingga syair dan puisi. Berikut adalah beberapa kesan sejumlah orang yang telah membacanya:

“Ketika membacanya,  rasanya saya seperti sedang mengarungi sungai yang jernih airnya dengan rakit, asyik berkelak kelok lewati kebun penuh bunga permai, dan sesampai di muara kutemukan mutiara hikmah yang bening berkilau dan penuh keindahan. Layak dijadikan mahkota raja-raja.
Selamat putraku , puisi-puisimu adalah ilham dari alam surgawi untuk pencerahan dan kepuasan setiap jiwa yang dahaga”. (Syeikh Dr. Dhiyauddin Hafizahullah)

“Saya sudah membaca karya yang membuat saya tidak bisa beranjak untuk meninggalkannya sejenak, meski selembar pun. Lembaran demi lembarannya seakan berdialog dengan hati saya. Indah. Benar-benar mengisi ruang kehidupan yang selama ini penuh dengan gelisah. Terima kasih sudah menghadirkan karya yang banyak manfaatnya ini”. (WULAN, Mahasiswi Akhir Pascasarjana Universitas Negeri Surabaya)

“Cerdas, menyentuh, dan ilahi banget tapi tetap romantis. Salut sekali penulis semuda Azzam bisa sangat dewasa dalam menyampaikan pesan-pesan kebenaran yang dikemas indah. Saya tenggelam dalam kesadaran yang saya tulus menerimanya”. (Taufik Akbar, Ketua Islamic Economics Forum SEBI)

“Penulis cerdas. Di setiap judulnya mampu membuat saya seolah-olah mengeja diri saya sendiri.  Hanyut terpukau saat membacanya”.
(Rahmi SM, Owner #airkangenjkt)

“Karya yang tak main-main! Setiap kalimat yang hadir dalam #EufoniCinta; rasanya tak seperti sedang membaca naskah. Bayangan para tokoh turut hadir menyelinap pada hipnotis diri. Setiap kalimat satu dengan yang lainnya tak menjadikan kita seperti sedang didikte; larut bersama kekhusyuan. Recomended!”.
(Fitri Herni Anggraini, Penulis Buku-buku Antologi)

“Mengalir, menerka dan terhanyut. Seperti sedang memutar film pendek. Such a precious masterpiece! Kata yang pantas untuk karya ini, dilihat dari penggambaran cerita dan pemberian nasihat sekaligus. Satu paket pengingat yang sederhana dan indah”. (Athifah)

“Tentang sebuah kisah perjalanan hati, jiwa dan raga. Begitu menginspirasi bagi pembacanya. Iya, inilah isyarat hati yang begitu mendalam”. (Afifah Kamila)

“Penulis yang luar biasa. Setiap kata demi kata saya merasakan kelezatan iman yang luar biasa, selalu mengahdirkan Sang Ilahi di setiap tulisannya. Saya hanyut terpukau dibawanya berlabuh ke singgasana-Nya. Buku ini wajib dibaca oleh siapa pun yang merindukan keindahan dan keromantisan cinta dari Sang Pemilik Segalanya. Selamat Sahabat, kautelah berhasil menghipnotis jiwa-jiwa dahaga dengan pesan-pesan kebenaran yang kaukemas sangat indah”. (Sheeni Nuryani)

“Keren! Tulisan yang ringan tapi sangat mengena.
Banyak pesan yang terselip tanpa disadari”. (Nurindah)

“Sebuah karya yang memukau pembaca dalam memaknai sebuah persahabatan, disampaikan dengan gaya bahasa yang indah. Bangga menjadi sahabat penulis”. (Siti Nuraini Wahdah)

“Penulis Muda yang berbakat, dengan gaya bahasa yang memikat, penulis mengajak kita mengenal ‘who am I?’ dan memahami makna persahabatan. Membaca buku ini menyadarkan kita betapa pentingnya menyelami diri sendiri”. (Mulyadi)

“Tiap bait yang dirangkai penulis selalu mampu menyulam sesimpul senyum”.
(Syafa Atul Udzmah, Komikus)

Saat anda merasa jenuh dengan rutinitas kerja, merasa jengkel dengan teman, merasa disudutkan, merasa serba salah, merasa kering kerontang, merasakan jiwa yang haus, atau hati anda sedang berbunga-bunga karena cinta, semoga buku kecil ini menjadi teman yang baik bagi anda untuk melampiaskan sejenak rasa-rasa itu.

Selain itu, seluruh royalti dari penjualan Buku Eufoni Cinta dipergunakan untuk pembangunan Pusat Pembibitan Penghafal dan Pemangku Al-Qur’an Al-Madani Lombok Timur-NTB. Sehingga, Buku Eufoni Cinta diharapkan dapat menjadi amal jariah yang tak terputus pahalanya bagi penulis, pembeli, donatur dan siapa saja yang terlibat dalam proyek kemanusiaan ini.

*SHARE INFO TENTANG BUKU EUFONI CINTA INI, SEMOGA JUGA MENJADI AMAL JARIAH BAGI ANDA.

BAGAIMANA MERAIH CINTA SEJATI?

Sabtu, 10 Mei 2014



Kepada Guru yang Mulia Syeikh Dr. Dhiyauddin Hafizahullah, aku meminta arahan:

"Wahai Guru, bimbinglah aku untuk dapati dan rasakan cinta sejati itu. Aku takut kehilangan arah, arahkanlah kami sebagaimana DIA telah mengarahkanmu".

Guru yang mulai menanggapi kehausan:

"Semoga ALLAH selali memberkahimu,

Sebagaimana telah saya jelaskan bahwa CINTA SEJATI adlah buah ma'tifat.

Ma'rifat bisa dicapai hanya jika hati memperoleh NUR MUHMADIYAH

Warna apa pun itu

Jumat, 09 Mei 2014



Orange, ungu, hijau, kuning, pink, merah, abu-abu, hitam, putih dan warna apa pun pada akhirnya hanya akan mewakili pelbagai rasa yang hadir di antara kita. Tidak ada yang keliru dengan warna-warna itu, hanya saja kita yang sering kali menyalahkan kegelapan. Ada apa dengan hitam? Mengapa seakan-akan putih dan kuning itu melambangkan cahaya kecemerlangan? Apakah itu warna kebaikan? Kebaikan ada dalam segala warna, meski kita tidak dapat mengindranya. Hanya mereka yang mengerti, ingin mengerti dan belajar mengerti yang tidak akan mencela warna apa pun dari setiap kejadian dalam hidup dan kehidupan. Dan akhirnya, kita tidak memiliki cukup bekal untuk menilai apa pun selain mencintai semua warna-warni yang sengaja atau tidak singgah dalam lempengan takdir siapa pun. 
Tempat: Dangau Auliya, Bogor- Jawa Barat

Guru Ruhani dan Tentang Kematian

Selasa, 06 Mei 2014

Bismillahirrahmanirrahim. Alhamdulillah, banyak agenda kerja dapat terselesaikan hari ini. Menjelang malam, lelah mulai terasa. Tapi semua itu sirna berkat siraman penyejuk Sang Guru Ruhani yang Mulia.

Siapa Guru Ruhani itu? Iyalah Syeikh Dr. Dhiyauddin. Seorang Guru Tasawwuf yang lembut hatinya dan mulia akhlaknya, ialah titisan dari pada Sunan Giri.

Sejak kapan saya mengenal beliau? Sekitar tiga tahun lalu beliau berkunjung ke Lombok bersama Syeikh Rohimuddin Annawawi. Memberikan ceramah dan penyejuk jiwa. Setelah itu, jarang sekali mendengar kabar tentang beliau. Hingga akhirnya beberapa bulan yg lalu saya berteman dg akun faceboook beliau g nama Emdeka Saka Guru.

Setiap status facebook beliau sarat dengan makna dan kesejukan. Saya sering meminta pendapat dan pencerahan kepada beliau melalui inbox fb. dan pada sejumlah status terjadi percakapan bersama beliau.

Malam ini, saya menulis status yang juga saya BC kepada sejumlah kontak whatsapp saya. Di facebook, saya tag beliau dan sejumlah sahabat. hingga terjadilah percakapan sebagai berikut:

Status saya: Senja telah rampung. Adakah egoisme masih kita rawat? Setelah matahari memainkan pentas ke-fana-an. Bahwa semua akan tenggelam. Semua akan hilang. Semua akan lenyap. Semua akan berakhir. Mati, kepastian paling misterius itu harusnya membuat kita selalu terjaga. Di atas langit, masih ada langit. Masih adakah yang layak untuk kita sombongkan? Sahabat, bila malam ini ada yang ingin kau catatkan : kuburan itu hanya seluas badan.

KOMENTAR

Emdeka Saka Guru: Saking besarnya anugerah di balik kematian,maka ia di sembunyikan di balik peti ketakutan

Multazam Zakaria: ayahanda Syeikh Emdeka Saka Guru, bimbinglah kami untuk belajar ttg kematian. sungguh, kami belum punya pemahaman.

Emdeka Saka Guru: Yang di dambakan tersembunyi di balik yg tdk disukai, contoh sehat tersembunyi di balik obat yg tdk disukai, begitu jg syurga tersembunyi di balik kematian yg di benci

Multazam Zakaria:  Allaah.. Allah.. Allah.. (saya tidak tahu harus mengatakan apa-apa lagi)

Emdeka Saka Guru: Kita harus banyak beramal sholeh u menghadapi kematian, tp jangan bergantung padanya,krn setiap kebergantungan pada selainNYA adalah syirik termasuk bergantung pada amal.Lalu bagaimana?

ALLAH tlh memberi petunjuk dlm ayatNYA " Hai orang 2 beriman bertaqwalah pada ALLAH dg sebenar2 taqwa dan jangalah kamu mati kecuai dlm keadaan BERSERAH DIRI/ taslim(qs 3 ; 102 )

Banyak orang kl di tanya belum siap mati krn merasa belum punya banyak amal,berarti dia bergantung pada amal

Ketahuilah berserah diri/ taslim itu adalah induk segala amal(ummul ibadah), sholat, puasa zakat haji dll amal dhohir itu semua hanyalah serpihan atau derivat saja dari TASLIM 

Maka seorang yg tlh berhasil mencapai maqom taslim/ keberserah dirian secara total pada ALLAH berarti ia tlh lulus sbg hamba ALLAH dan tlh siap di panggil dg panggilan ' irji'ii ila robbiki rodhiyatan mardhiyah fadzhuli fi IBADY fadzhuli JANNATY

Multazam Zakaria: allahu akbar.. aduhai bahagianya diriku Allah takdirkan mendapat bimbingam dari ayahanda Emdeka Saka Guru. sirna segala haus, lenyap segala lelah. semoga Allah panjangkan umur ayahanda, dan Allah sehatkan selalu.. 

saaalam 'alaika ya sayyidii..

Emdeka Saka Guru: Alaikaasalam wr wb.Berkah berkah berkah smg sll meliputimu dan keluargamu.

Demikian percakapan saya malam ini dengn Guru ruhani tentang kematian. Sengaja saya share dengan harapan juga bisa menajdi bimbingan dan penyejuk bagi sahabat yang membacanya.

Depok, 6 Mei 2014
Multazam Zakaria

Tidak Ada Alasan untuk Menolakmu

Minggu, 04 Mei 2014



Tidak ada alasan untuk menolakmu


Aku tidak lagi punya alasan apa pun untuk menolakmu. Engkau terlanjur hadir di sini. Di ruang ketulusan. Egoisme dan kesombongan kaulebur dalam wirid-wirid sunyimu. Malam ini, kita gelar lagi sajadah. Semoga gelap hadiahkan keinsyafan paling mungkin untuk kita. Tidak ada lagi yang perlu kukhawatirkan, setelah kau benar-benar utuh menemaniku menghabiskan malam. Aku semakin tertantang, bersamamu mengabadi. Semoga Allah ridho.


Persahabatan persis sama dengan tiga garis yang membentuk segitiga sempurna. Apa itu? Garis pertama adalah dirimu, garis kedua adalah sahabatmu dan garis ketiga adalah alasanmu. Bukankah benar garis pertama dan garis kedua tidak akan mampu membentuk segitiga sempurna tanpa kehadian garis ketiga? Benar, karena itu terdengar seperti kemustahilan. Lalu apa atau siapakah yang harus menjadi garis ketiga itu? Persahabatan akan menajdi kekal dan mengabadi bila kita tidak punya ruang sekecil apa pun untuk menggugat alasan persahabatan. Adakah itu? Ada: Tuhan.

Menjadikan apa dan siapa pun selain Tuhan untuk mengisi peran menjadi garis ketiga adalah hal yang wajar, tapi kita tidak lagi punya hak untuk mengharapkan keabadian dari sebuah relasi normal. Sebab? Semua fana, selain-Nya. Maka persahabatan akan fana dan berakhir jika alasan yang berperan sebagai garis ketiga telah fana dan sirna. Misal: jika peran itu diduduki oleh harta maka begitu tiada harta akan fanalah persahabatan; popularitas, begitu hilang popularitas maka hilanglah persahabatan. Ada pun Tuhan? Ialah yang kekal, jika Ia kaujadikan garis ketiga, maka kekallah persahabatanmu.

Ketiadaan garis ketiga menjadi sebab hadirnya gap dalam sebuah relasi persahabatan. Semua menjadi berjarak, banyak hal remeh-temeh menjadi sekat yang sewaktu-waktu menjadikan persahabatan tidak pernah ada dalam satu titik yang senada.
Begitu juga dengan persaudaraan, menghadirkan Tuhan sebagai garis ketiga berarti menghancurkan segala tembok yang selama ini menjadi sekat persaudaraan. Perbedaan apa pun tidak akan mengganggu setiap romansa di dalamnya. Karena ia akan selalu bertemu dalam satu garis: Garis Tuhan (God Line).

Kehadiran Tuhan sebagai garis ketiga dalam bentuk relasi apa pun menjadikan sesuatu yang terjalin menjadi begitu amat luas dan lebar, tanpa sekat-sekat, bahkan tanpa batasan ‘kandung’. Ini artinya, siapa saja bisa menjadi saudara siapa saja, siapa saja bisa menjadi sahabat siapa saja, jika ia benar-benar mampu menghadirkan garis ketiga dalam persaudaraan dan persahabatan. Maka sering kita dengar ungkapan “akhi fillah” yang artinya -suadaraku karena Allah- menunjukkan bahwa Tuhan menjadi pemersatu.

Begitulah, dan jika kita benar-benar telah merasai kehadiran Tuhan dalam relasi persaudaraan, maka kita juga harus benar-benar berani menghargai setiap ketulusan menjadi sebuah kebeningan.

PENGKHIANATAN TERHADAP IBU PERTIWI

Selasa, 01 April 2014

PENGKHIANATAN TERHADAP IBU PERTIWI
Multazam Zakaria
Khadim Pondok Pesantren Al-Madani & SEBI School of Islami Economics  


Indonesia dengan segala keindahannya disebut-sebut sebagai sepenggal firdaus pada hamparan khatulistiwa. Dan kita pun memaklumi itu karena kita juga turut serta menikmatinya. Akan tetapi, kita juga tidak bisa menutup mata atas pelbagai kenyataan yang kita semua menjadi saksinya: korupsi, kemiskinan, kenakalan remaja dan pelbagai permasalahan lainnya dalam berbagai sektor; pendidikan, sosial, ekonomi dan lainnya. Inilah yang akan menjadikan kita terus bertanya-tanya ‘di mana sepenggal firdaus yang dielu-elukan itu?’.

Tidak mengherankan jika sebuah hasil survei (Cirus, 15 Desember 2013) akhir-akhir ini menyatakan bahwa hanya 9,4 % responden (2.200 responden diwawancara dengan tatap muka) yang masih percaya dengan partai politik. Sejujurnya ini sangat memilukan dan inilah kenyataannya. Hampir seluruh rakyat Indonesia terjangkiti gejala kanker kronis skeptisme. Ini sangat berbahaya terhadap masa depan Bangsa. Krisis kepercayaan terhadap pemerintah dan politik kita saksikan bertebaran di mana-mana. Bukan tanpa sebab, justru dengan sejuta satu sebab musabbabnya. Dan kita semua mengetahuinya.

Mendekati Pesta Demokerasi 9 April 2014, gejala ini menjadi monster yang mengancam masa depan Ibu Pertiwi. Gejala ini menjelma menjadi sebuah gerakan yang kini semakin digemari : Golongan Putih (Golput). Bisa dikatakkan golput lahir sebagai bentuk kekecewaan dan kemarahan rakyat. Tidak ada lagi yang bisa dipercaya, bahwa politik adalah bohong dan bahwa pemerintah adalah kepentingan pribadi saja. Dari sekian banyak pilihan yang ditawarkan, golput memilih untuk tidak memilih, tidak ikut andil dalam mementukan pemimpin Negara karena golput merasa bahwa Negara (red: pemerintah) juga tidak pernah ikut andil dalam pelbagai persoalan kehidupannya.

Jika golput adalah reaksi wajar atas pelbagai kenyataan yang melanda kehidupan bernegara kita, justru pada kondisi seperti ini kita harus mampu keluar menarik diri dari massa dan memberikan sikap yang baru untuk Indonesia. Mengapa? Sepertinya golput bukanlah pelampiasan yang bijak atas sebentuk kekecewaan ini. Golput melepas diri dari masa depan, dan ini bentuk pengingkaran keniscayaan.

Fatwa golput haram telah kita maklumi bersama. Karena golput bertentangan dengan ajaran agama. Sementara di satu sisi kita terus mengelu-elukan pluralitas beragama di Negara ini. Dalam Islam, putus asa dijadikan indikasi kekufuran (pengingkaran) agama. Maka jelas, jika golput dilatarbelakangi oleh sebentuk keputusasaan  maka golput adalah salah satu bentuk pengingkaran agama. Sementara Indonesia adalah tanah haram bagi yang tidak beragama. Jika kita mengamini ini, maka golput adalah sebentuk pengkhianatan terhadap Ibu Pertiwi. Golput adalah bentuk keacuhan terhadap masa depan Indonesia.


Politik adalah sebuah konsep pementasan agung dalam bernegara. Kekecewaan terhadap para pemain pentas (politisi) tidak seharusnya membuat kita menjadikan konsep pementasan (politik) menjadi tumbal dengan berlaku skeptis atasnya. Jika begitu, maka kita sedang menyiapkan diri untuk menjadi korban-korban pemain pentas selanjutnya.


“Kebathilan akan menang jika para pendukung kebenaran dan para pengusung yang haq hanya berdiam diri.”, begitulah Mohammad Natsir menasihatkan. Harusnya nasihat pendiri sekaligus pemimpin partai politik Masyumi ini menjadi landasan paling wajar bagi siapa saja yang mengaku peduli dan cinta kepada Indonesia untuk tidak bergabung dalam gerakan Golput. Kekecewaan rakyat terhadap para pemimpin saat ini harusnya dilampiaskan pada jalur yang tepat dan logis. Ketidakmampuan kita meletakkan emosional di bawah logika hanya akan menyeret kita untuk merasakan luka-luka berikutnya.

Hemat penulis, kekecewaan terhadap para pemimpin dzalim harusnya dilampiaskan dengan mempersempit kesempatan mereka untuk berkuasa  kembali. Sedangkan golput justru akan membuka lebar gerbang kekuasaan untuk dimasuki mereka kembali. Maka jelaslah, golput bukanlah pilihan yang tepat untuk mengungkapkan kekecewaan, juga bukan pilihan yang tepat untuk mengungkapkan cinta kepada Indonesia.

Siapakah yang harus kita pilih? Ada empat idiom yang dikenal dalam Islam, khususnya dalam mengambil keputusan; Ilmul Yaqin, Haqqul Yaqin, Ainul Yaqin dan Udzunul Yakin. Ilmul Yaqin adalah metode yang digunakan dalam mengambil keputusan berdasarkan ilmu pengetahuan yang kita miliki. Haqqul Yaqin adalah metode yang diambil setelah melakukan pertimbangan yang masak, baik itu berasal dari intuisi, firasat atau sebagainya. Ainul Yaqin adalah metode mengambil keputusan berdasarkan pertimbangan dari apa yang kita lihat. Udzunul Yaqin adalah mengambil keputusan berdasarkan pertimbangan dari apa yang kita dengar, dan inilah metode terlemah dari empat metode yang ada.

Umumnya, metode yang keempat dan ketiga inilah yang sedang kita lakukan. Kita memutuskan untuk memilih seseorang sebagai pemimpin dan wakil kita berdasarkan apa yang kita dengar dan kita lihat tentang orang tersebut. Jika kita merasa nyaman dengan kedua metode ini maka kita akan sering tertipu oleh berita pesanan di koran, televisi, internet dan lainnya. Bahkan, upacara-upacara dan atraksi pencitraan yang mulai ramai kita saksikan.

Untuk mendapatkan pilihan yang ideal, kita harus meenggunakan metode yang lebih tinggi levelnya; Haqqul Yaqin dan atau Ilmul Yaqin. Dalam Islam kita sering mendengar dan mengungkapkan ayat kedua dari suarat Al-Baqarah la raiba fih, tidak ada keraguan di dalamnya (Al-Qur’an). Ini berlaku khusus kepada Allah, dan berlaku terbalik bagi selain-Nya. Maka kita tidak perlu meyakini apa yang sebenarnya belum kita ketahui tentang manusia. Maka tugas kita adalah mencari tahu sebanyak mungkin hal tentang para calon pemimpin yang akan kita pilih.

Memang, wahyu pertama adalah Iqra’, bacalah! Akan tetapi kita belum cukup hanya dengan membaca untuk menentukan pilihan. Tapi harus bismirabbika alladzi khalaq, kita membaca dengan nama Allah, tidak keluar dari koridor yang semestinya. Sehingga kita betul-betul siap untuk memilih pemimpin terbaik untuk masa depan bangsa kita, Indonesia tercinta. Wallahua’lam.

(Dimuat di Harian Lombok Post, 1 April 2014)